May 25, 2018

Eksplorasi Emas Banyuwangi, Konspirasi Elit Politik (1)

dok.INTELIJEN


dok.INTELIJEN

INTELIJEN.co.id – Artikel-artikel terkait sumber daya alam (tambang emas) di Banyuwangi, Jawa Timur ini merupakan hasil liputan Tim INTELIJEN yang dimuat dalam Tabloid INTELIJEN Nomer 9/Tahun V/Juni 2008. Ada kabar waktu itu, bahwa di kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa tersebut, menyimpan potensi tambang emas yang besar, yakni di Gunung Tumpang Pitu, dekat Pantai Selatan Banyuwangi. Menariknya, masyarakat sekitar tidak banyak yang mengetahui, bahkan daerah itu dipenuhi dengan cerita mistik yang secara tidak langsung semakin menjauhkan masyarakat dengan rencana kepentingan pihak-pihak tertentu yang berniat mengeksplorasinya. Kepiawaian PT IMN melakukan lobi kepada pemeintah daerah, memunculkan tanda tanya besar. Adakah kekuatan asing di balik rencana penguasaan SDA Tumpang Pitu? Benarkah Newmont Gold Company (NGC), Denver, Amerika Serikat, di balik itu? Artikel-artikel selengkapnya akan dimuat secara bersambung untuk INTELIJEN.co.id.

“Saya tidak tau masalah tambang emas Tumpang Pitu. Saya juga tidak tahu menahu adanya pro kontra masyarakat terkait penambangan. Siapa yang ikut, saya juga tidak tau,” dengan pandangan penuh selidik, tokoh masyarakat Pulau Merah itu menolak berkomentar.

Padahal, menurut informasi yang disampaikan penduduk Pulau Merah, tokoh masyarakat itulah yang menggalang dukungan masyarakat agar mendukung rencana eksploitasi emas di hutan lindung Gunung Tumpang Pitu.

Memang, situasi kampung nelayan Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, itu diliputi ketegangan. Pro-kontra bahkan konflik muncul di tengah masyarakat mengiringi rencana eksploitasi PT Indo Multi Niaga (PT IMN) di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Merah.

Mudasar, tokoh masyarakat Pancer, Sumberagung, kepada INTELIJEN mengungkapkan, banyak pihak yang memanfaatkan konflik masyarakat untuk kepentingan tambang emas Tumpang Pitu.

Menurut Kepala Dusun Pancer itu, pihaknya sempat menangkap pihak yang melakukan pemalsuan tandatangan untuk menerima tambang emas. “Dulu orang itu menolak pertambangan. Tetapi ternyata di belakang menggalang tandatangan mendukung eksploitasi PT IMN” tegas Mudasar.

Kekuatan besar memang tengah memainkan skenario penguasaan hutan lindung yang konon memiliki kandungan bijih emas jauh lebih besar dibanding tambang emas di Sumbawa, NTT itu.

Berdasarkan paparan PT IMN, jumlah cadangan bijih emas Tumpang Pitu mencapai sekitar 9.600 ribu ton dengan kadar emas rata-rata mencapai 2,39 ton. Sedangkan jumlah logam emas sekitar 700 ribu ton. Penambangan dengan metode “tambang dalam” (underground mining) itu akan memproduksi emas mencapai 1,577 ton pertahun. Total investasi awal yang disiapkan PT IMN mencapai US$ 4,3 juta

Dikhawatirkan, hutan lindung yang dari kejauhan tampak seperti jejeran gunung dengan tujuh puncak itu akan dijadikan lahan baru untuk mendulang rupiah, dengan mengesampingkan banyak aspek utamanya sosial dan lingkungan.

Nuansa konspirasi pun menyelimuti elit di Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi sendiri selalu gembar-gembor bahwa cadangan emas Tumpang Pitu akan mampu menyumbang 10-20 persen PAD Kabupaten Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi, Ratna Ani Lestari juga tetap ngotot mendukung penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Istri Bupati Jembrana Gde Winasa itu berdalih, penambangan emas berdampak positif  bagi masyarakat Banyuwangi.

Sikap Ratna memunculkan kecurigaan. Mengingat, PT IMN akan membuang tailing ke laut di sekitar Pulau Merah. Jika proyek itu terealisasi, pantai Pancer, Puger, Grajagan dan Rejegwesi akan tercemar.

Tak hanya itu, hutan lindung Gunung Tumpang Pitu yang merupakan kawasan potensi air bawah tanah mencapai 30 liter per detik, akan segera beralih fungsi. Proyek itu juga akan mengancam keberadaan Taman Nasional Meru Betiri (TNBM) yang hanya berjarak 27 kilometer dari Tumpang Pitu.

Setali tiga uang, Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo juga merekomendasikan eksplorasi PT IMN di Tumpang Pitu dengan menandatangani surat nomor 522/7150/021/2007. Tentu saja keputusan Imam Utomo ini bertentangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRWP) Jawa Timur 2002. Di mana terlihat bahwa Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan lindung mutlak dengan kategori hutan lindung.

Ironisnya, Menteri Kehutanan M.S. Kaban juga mengijinkan PT IMN mengeksplorasi bijih emas Tumpang Pitu untuk jangka waktu dua tahun, terhitung sejak 27 Juli 2007. Melalui surat bernomor S.406/MENHUT-VII/PW/2007, PT IMN diijinkan melakukan eksplorasi di kawasan hutan produksi tetap (HP) dan hutan lindung (HL) seluas 1.987,80 ha di Banyuwangi.

Share Button