August 20, 2018

DSRV, Metamorfosa Kapal Selam Pengintai

NATO Submarine Rescue System (wn.com)


NATO Submarine Rescue System (wn.com)

INTELIJEN.co.id – Kemampuan kapal selam sebagai kendaraan tempur bawah laut memang tidak diragukan lagi. Selain dapat menyusup melaui wilayah perairan tanpa diketahui lawan, kendaraan tempur bawah laut ini juga mampu membawa berbagai senjata, termasuk nuklir.

Kehebatan kapal selam sebagai penyusup sudah terbukti di berbagai medan peperangan, seperti, PD II maupun perang-perang selama era Perang Dingin. Bahkan pasca runtuhnya Uni Soviet, kapal selam tetap menjadi deterence factor bagi negara yang memilikinya.

Tetapi di balik segala kemampuannya sebagai penyusup bawah laut yang menakjubkan, kapal selam tetap memiliki kelemahan. Badannya yang besar dan gerakannya yang terhitung lambat, membuat kendaraan militer satu ini mudah terkena tembakan peluru lawan jika sudah terlacak radar lawan.

Apalagi ketika era Perang Dingin. Saat itu Blok Barat dan Blok Timur terus berlomba mengembangkan radar untuk melacak kapal selam, serta senjata yang mampu menghancurkannya.

Akibat Perang Dingin juga, AS dan Uni Soviet mengembangkan kapal selam khusus dengan kemampuan intelijen. Bahkan khusus untuk keperluan yang satu ini, kedua negara adi daya tersebut harus mereduksi ukuran kapal selamnya hingga sekecil-kecilnya.

Setelah Perang Dingin berakhir, fungsi-fungsi kapal selam pengintai kemudian berubah 180 derajat. Kapal selam mungil yang dulunya bertugas mengintai dan menyusup ke daerah lawan, menjadi sebuah wahana penyelamat di area perairan.

Perubahan fungsi ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi negara di luar AS dan Rusia sebagai penerus Soviet. Dengan kamuflase mengembangkan kapal selam penyelamat, negara-negara seperti Jepang, Korea, Cina, Rusia bahkan AS mengembangkan apa yang disebut dengan Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV).

Namun, walau fungsi utama dari wahana ini adalah sebagai wahana penyelamatan dalam air, disinyalir tidak mengurangi kemampuan menyusupnya. Hal ini tidak terlepas dari fungsi utama kapal selam tidak bisa dilepaskan sebagai penyusup.

Minat Internasional

DSRV sebenarnya adalah jenis kapal selam tipe Deep Submergence Vehicle, atau kapal selam dengan kemampuan menyelam hingga kedalaman tertentu yang tidak dapat dicapai oleh kapal selam biasa. Wahana ini biasanya digunakan untuk mengevakuasi korban awak kapal selam yang karam di tengah laut, dan melaksanakan misi penyusupan.

Dengan dua kemampuan tersebut, setidaknya ada delapan negara yang mengembangkan DSRV, yakni Cina, Uni Eropa, Jepang, Korea, Rusia, Singapura, Inggris dan AS. Tetapi dari delapan negara yang mengembangkan DSRV, AS-lah negara yang paling sering menggunakan wahana ini.

Semenjak 1976, Cina mengembangkan DSRV bernama Type 7103. DSRV tersebut diletakan di tiga kapal penyelamat kapal selam kelas Dajiang, masing-masing dua unit.

Dengan panjang 15 meter, lebar 2,6 meter dan tinggi empat meter serta memiliki kecepatan maksimum empat knot. Type 7103 diawaki oleh empat orang kru dan mampu menyelam hingga kedalaman 600 meter.

Dalam proses evakuasi, Type 7103 hanya mampu menyelam hingga 360 meter saja. Kemampuan menyelamatkan 22 orang dalam operasi docking, dan enam hingga sepuluh orang ketika operasi basah.

Uni Eropa tidak mau ketinggalan. Melalui kerjasama Perancis, Norwegian dan Inggris, Uni Eropa mengembangkan DSRV dengan nama NATO Submarine Rescue System. DSRV Uni Eropa ini mengambil dasar LR5 yang dikembangkan Perry Slingsby System Ltd di Yorkshire. LR5 ini juga digunakan oleh Singapura.

NATO-SRS rencananya akan memiliki panjang sepuluh meter, berat 27 ton, memiliki satu lambung, dan semua badannya terbuat dari baja (Q1N), serta dapat dikendalikan oleh tiga orang kru. Wahana ini juga mampu menyelam hingga kedalaman 610 meter dengan kemiringan 60 derajat.

Dari sisi tenaga, DSRV NATO menggunakan baterai teknologi terbaru Rolls Royce tipe “Zebra”, yang mampu bertahanan di kedalaman air selama 96 jam. Sedangkan tenaga penggeraknya terdiri dari dua unit mesin bertenaga masing-masing 25 kiloWatt, yang mampu menggerakan empat unit penggerak berukuran kecil untuk menentukan posisi.

Sedikit berbeda dengan apa yang dikembangkan oleh Jepang dan Korea Selatan. Dua negara tetangga ini mengembangkan DSRV yang dapat diluncurkan dari kapal induk. Namun Korea Selatan mengembankan DSRV-nya dengan memodivikasi DSRV Inggris, sedangkan Jepang mengembangkan sendiri.

Lalu bagaimana dengan Rusia. Sebagai penerus Uni Soviet, Rusia mewarisi teknologi DSRV peninggalan Soviet yang sudah dikembangkan semenjak 1986. Diyakini, Rusia memiliki satu unit DSRV kelas Bester dan lima unit kelas Priz. Semuanya pernah terlibat dalam misi penyelamatan awak kapal selam Kursk, yang berakhir dengan kegagalan.

Khusus untuk DSRV kelas Priz, wahana ini memiliki panjang 13,5 meter, lebar 3,8 meter dan tinggi 4,6 meter, dengan daya angkut mencapai 55 ton dan kemampuan menyelam hingga kedalaman seribu meter. Kemampuan selam ini dilengkapi dengan lambung kapal berbahan titanium.

Dengan kru berjumlah empat orang, Priz memiliki kecepatan maksimum 3,3 knot atau setara dengan enam kilometer perjam, dan kecepatan jelajah 2,3 knot atau setara dengan empat kilometer perjam sambil membawa penumpang sebanyak 20 orang.

Kelebihan lain dari DSRV milik negara Beruang Merah ini adalah kemampuan bertahan di dalam air yang mencapai 120 jam dengan empat orang awak, dan sepuluh jam ketika mengangkut 24 orang. (repro INTELIJEN)

Share Button