August 20, 2018

DRS Aljazair, Alat Represi Pemerintah Sekuler

Logo DRS (www.interet-general.info)


Logo DRS (www.interet-general.info)

INTELIJEN.co.id – Department of Intelligence and Security atau DRS adalah dinas intelijen Aljazair, sebuah negara di benua Afrika. Letak negara ini bersebelahan dengan Tunisia di timur laut. Berbatasan dengan Laut Mediterania di sebelah utara, dengan Libya di timur, Nigeria di sebelah tenggara, Mali dan Mauritania di barat laut.  

Dalam ejaan Indonesia, Algeria disebut dengan Aljazair yang dalam bahasa Arabnya berarti Kepulauan. Arti ini merujuk pada empat buah pulau yang berdekatan dengan Algiers, ibu kota Aljazair.

Negara ini merupakan negara yang terbesar di benua Afrika. Pada masa lalu, Aljazair berada di bawah kekuasaan Dinasti Bani Ummayyah.

Perancis kemudian menguasai negara ini pada 1830 ketika dunia Islam mulai mundur. Sejak saat itu, Perancis menjadikannya sebagai bagian dari terotorinya. Dan datanglah orang-orang Perancis ke negara ini.  

Selain dari Perancis, beribu-ribu pendatang berduyun-duyun dari berbagai negara seperti Italia, Spanyol datang ke wilayah ini. Mereka menduduki beberapa wilayah strategis Aljazair.

Arus sebaliknya juga terjadi. Ribuan penduduk Aljazair melakukan migrasi secara besar-besaran ke Perancis dan bebrapa negara di Eropa.

Pada 1954 Perang kemerdekaan Aljazair terjadi. Serangan para gerilyawan terjadi di mana-mana. Puncaknya pada 1962, Aljazair berhasil mengusir Perancis. Namun, kedaulatan itu terasa semu karena Aljazair dipimpin bangsanya sendiri yang menjadi antek atau agen-agen Perancis.   

Jadilah negara ini sebagai negara sekuler. Pemimpinnya merupakan kader atau orang binaan Perancis. Mereka, para pemimpin, menjadi penguasa otoriter yang rela menindas warganya sendiri.

Beberapa pergantian pemimpin pun melalui pergolakan-pergolakan sengit, bahkan pertumpahan darah. Di masa transisi menuju kehidupan merdeka, negara ini dipimpin oleh Ferhat Abbas antara 1962-1963.  

Setelah masa transisi usai, Aljazair dipimpin oleh Ahmed Ben Bella yang kemudian posisinya ini diambil alih secara inkonstitusional oleh sekutunya sendiri, yang juga Menteri Pertahanan, Houari Boumedienne, dalam sebuah kudeta militer pada 1965 .

Pasca suksesi itu, Aljazair nyaris mengalami masa-masa stabil dalam jangka seperempat abad lamanya ketika negara ini menerapkan sistem partai tunggal, The Algerian National Liberation Front (FLN).

Sekitar 1990-an, Aljazair terjerembab pada kancah perang saudara setelah militer menghalangi gerakan Partai Pembebasan Islam yang hendak mengambil alih kekuasaan selepas digelar pemilihan umum. Dalam perang ini, sekitar 100.000 orang tewas.

Seperti lazimnya negara yang dikuasai rezim militer,penguasa Aljazair juga banyak yang melakukan tindakan-tindakan represif terhadap rakyatnya.

Selain menggunakan militer, penguasa juga menjadikan dinas rahasia dinas intelijen negaranya, DRS, sebagai alat represi.

Keberadaan dinas ini berawal sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Di bawah pemimpin pertamanya, Abdelhafid Boussouf, jaringan nasional dan internasional dibangun.

Kepemimpinan Boussouf kemudian dilanjutkan oleh Houari Boumédiène. Pada masa Houari Boumédiène inilah DRS resmi dilembagakan dan dikelola secara profesional sebagaimana badan intelijen dunia pada umumnya.

Setelahnya, secara berurutan, DRS dipimpin oleh Kasdi Merbah (1965-1978), Yazid Zerhouni (1979-1981), Lakehal Ayat (1981-1988), Mohamed Betchine (1988-1990) dan Mohamed Mediène (1990). Selama itu pulalah DRS mengalami dinamikanya sebagai dinas rahasia.

Pada saat ini, DRS mengemban tugas mengamankan negara dari ancaman spionase, menjaga keamanan dalam negeri dan melindungi negara dari ancanam asing. Namun, secara umum, DRS beroperasi untuk memperoleh informasi-informasi intelijen.

Dinas rahasia yang sering berhadapan dengan lawan-lawan politik penguasa ini memiliki dua unit khusus. Pertama, unit layanan khusus (Special Unit of the Service Action). Unit ini beroperasi dengan misi-misi sensitif dalam beberapa tingkatan.

Kedua, Groupe d’Intervention Spécial (GIS) atau Special Intervention Group yaitu sebuah unit yang dibentuk pada 1970-an. Keberadaan unit ini sangat dirahasiakan. Dan dalam jangka waktu yang lama unit ini nyaris tidak pernah diketahui publik hingga pada saat Presiden Boudiaf terbunuh pada 1992.

Meskipun unit ini dirahasiakan, tapi GIS banyak berpartisipasi dalam berbagai misi. Persoalan pelik yang pernah dihadapi DRS adalah tuduhan melakukan penangkapan secara tidak sah, penahanan dan penyiksaan terhadap lawan-lawan politik penguasa.

Korbannya terutama para politisi-politisi dan aktifis partai Islam, FIS. Para politisi dan aktifis FIS ditangkap dan diperlakukan secara kasar. Mereka banyak yang menjadi korban operasi rahasia dinas ini baik di dalam maupun di luar tahanan.

Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan DRS tidak dapat dikontrol lagi dan beberapa proses penyelidikan teradap tindakan kekerasan itu selalu mengalami kegagalan.

Hal ini disebabkan penguasa Aljazair memberikan peluang dan kesempatan terhadap pejabat-pejabat DRS untuk melakukan tindakan-tindakan yang bersifat langsung. Dan, yang paling banyak menjadi korban adalah kelompok oposisi terutama para penentang partai pemerintah. (repro INTELIJEN)

Share Button