May 24, 2018

Dolf Runturambi, Tokoh penting di Balik Kiprah “Permesta Yard”



Kepala Staf Angkatan Perang Permesta 1960-1961, Mayor Dolf Runturambi (Istimewa)

INTELIJEN.co.id – Diskursus terkait posisi gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) terhadap kedaulatan Republik Indonesia belum berakhir di satu titik. Sejumlah pihak masih mengganggap gerakan yang dipimpin Kolonel HN Ventje Sumual ini sebagai aksi ilegal atau kudeta. Misalnya, pendapat sejarawan Belanda WF Wertheim, dalam bukunya “Indonesian Society in Transition” (1959). Di lain pihak, tidak sedikit sejarawan yang berpandangan bahwa gerakan Permesta adalah gerakan politik di daerah, bukan gerakan pemberontakan. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, bahkan sempat meminta agar pelurusan sejarah Permesta perlu disegerakan.

Bagi pelaku sejarah pergerakan Permesta, meluruskan dominasi interpretasi sejarah oleh penguasa tidak mudah dilakukan. Salah satu tokoh Permesta yang terus berupaya meluruskan sejarah Permesta di sisa usianya adalah mantan Kepala Staf Angkatan Perang Permesta, Mayor Inf. (Purn) Dolf Runturambi. Pria kelahiran Tondano, 20 Agustus 1920, ini tak kenal putus asa melakukan pelurusan sejarah berdasarkan studi ilmiah ataupun fakta-fakta sebagai pelaku.

Pada 1988, Dolf Runturambi menerbitkan buku memoar yang menguncang dominasi penulisan sejarah oleh penguasa. Buku bertajuk “Permesta: Kandasnya Sebuah Cita-cita” ini pada 1990 dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung RI. Buku yang disusun oleh K.M.L Tobing ini dinyatakan mengandung analisa konflik dari buku “Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI Angkatan Darat” yang diterbitkan TNI.

Dalam pandangan Dolf Runturambi, Permesta hanya memperjuangkan tiga hal, yakni pendidikan, pembangunan dan kesejahteraan rakyat, sehingga pembangunan nusa dan bangsa dapat terwujud. Tidak ada upaya untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia. Hanya saja, karena terjadi ketimpangan pusat dan daerah atau Jawa dan luar Jawa, Permesta ingin mengoreksi ketimpangan tersebut.

“Permesta merupakan upaya koreksi terhadap pemerintah pusat waktu itu, agar lebih memperhatikan pembangunan daerah, karena memang daerah tidak diperhatikan sama sekali. Di daerah kami kopra, pala, cengkeh, itu semua mengalir ke pusat dan tidak ada yang kembali untuk pembangunan. Hal ini yang membuat kami, para perwira merasa bahwa daerahnya tidak diperhatikan. Kemudian dicetuskanlah Permesta di Makassar,” kata Dolf.

Mengutip statement mantan Panglima Teritorium VII Wirabuana Ventje Sumual, Dolf selalu menyatakan bahwa Permesta tidak memiliki kaitan dengan PRRI. Tetapi Permesta merupakan perjuangan pembangunan kawasan Timur Nusantara yang abadi untuk kesejahteraan rakyat di Indonesia Timur.

Perjuangan Permesta memang tidak bisa lepas dari peran Dolf Runturambi. Tokoh militer yang dikenal cerdas ini lah yang membacakan teks pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat dalam bahasa Inggris melalui RRI (Radio Permesta) pada pukul 20.00, 17 Februari 1958. Sebelumnya, pada hari yang sama, Dolf memberikan orasi di depan tokoh masyarakat dalam pertemuan di Universitas Permesta, Sario Manado. Pertemuan inilah yang akhirnya menghasilkan kesepakatan, bahwa Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet Djuanda.

Setelah pemutusan hubungan itu, KSAD A.H. Nasution mengumumkan pemecatan sekaligus memerintahkan penangkapan Letkol H.N. Ventje Sumual, Mayor D.J. Somba dan Mayor Dolf Runturambi, H.D. Manoppo dan Jan Torar.

Dedikasi

Berbekal pengalaman dan kemampuan yang dimiliki, alumni Military Intelegence & Security Maresfield Camp, Southland Yard, London ini memegang posisi kunci strategi perjuangan Permesta. Apalagi perjuangan Permesta didukung intelijen Amerika Serikat yang ingin membendung pengaruh komunis di Indonesia. Tak hanya membantu dalam hal pelatihan militer, AS juga mengirimkan berbagai macam persenjataan. Sejumlah pihak menyebut, Dolf Runturambi adalah tokoh penting di balik kiprah Badan Intelijen Permesta, “Permesta Yard”.

Di mata kelompok pendukung Partai Komunis Indonesia, Dolf Runturambi adalah sosok yang ditakuti. Alumnus Communist & Anti-communist for Military Course, War College London ini lah yang membuat skenario perlawanan anti-komunis Permesta. Di tubuh Permesta sendiri sering disusupi kelompok PKI, misalnya penyusupan Kapten (APREV) Simon Ottay dari GAP (Gerakan Anti Permesta), yang berhasil dibongkar.

Kalangan internal Permesta sendiri menaruh hormat kepada Dolf Runturambi. Tak heran jika kabar tewasnya Komandan KDP III/Bolmong-Gorontalo Letkol Dofl Runturambi, dalam kontak senjata TNI-Permesta di “Kasuang”, sempat memanaskan hubungan antara petinggi Permesta. Kepala Staf ADREV PRRI Brigadier Jenderal HN Ventje Sumual sempat mengancam akan menembak mati Panglima Besar PRRI Mayor Jenderal Alex Kawilarang, jika memang benar Letkol Dolf Runturambi tewas di daerah Kasuang. Kabar tewasnya Dolf Runturambi tersebut terkait pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong.

Dolf, ketika menjabat sebagai Komandan KDP III sukses mencegah skenario aksi bar-bar pasukan Permesta. Misalnya, mencegah aksi bumi hangus pembakaran rumah penduduk di Kotamobagu yang dilakukan pasukan Permesta dari Sekolah Pendidikan Tentara Permesta di bawah pimpinan Letkol Wim Joseph dan Kolonel J.M.J. (Nun) Pantouw. Ketika itu Dolf melarang pembakaran rumah milik rakyat karena akan menimbulkan antipati penduduk Bolmong terhadap Permesta.

Berikut cuplikan pandangan peretas otonomi daerah diarus sejarah itu, dalam wawancaranya dengan INTELIJEN, pada Februari 2011, di Jakarta.

Tidak mudah meluruskan sejarah perjuangan Permesta yang dikaitkan dengan gerakan separatis. Apa sebenarnya yang diperjuangkan Permesta?

Perjuangan Rakyat Semesta sebenarnya adalah bentuk perjuangan untuk membangun Republik Indonesia. Permesta memperjuangkan tiga hal mendasar bagi pembangunan bangsa, yakni pendidikan, pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Jadi hanya tiga hal tersebut, tidak ada upaya untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Bisa juga dimaknai bahwa perjuangan Permesta merupakan upaya koreksi terhadap pemerintah pusat waktu itu. Agar lebih memperhatikan pembangunan daerah, karena memang daerah tidak diperhatikan sama sekali. Misalnya, di daerah kami, kopra, pala, cengkeh, semua mengalir ke pusat dan tidak ada yang kembali untuk pembangunan di daerah. Hal ini yang membuat kami, para perwira merasa bahwa daerahnya tidak diperhatikan. Kemudian dicetuskanlah Permesta di Makassar.

Saya sendiri terlibat dalam aksi penumpasan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) yang ingin memisahkan diri. Kami harus mempertahankan Republik Indonesia, jadi merupakan hal yang bodoh jika kami justru ingin memisahkan diri.

Dalam perjalanannya, Permesta justru terlihat sebagai garda paling depan untuk menghadapi dominasi komunis (PKI), apakah Permesta memang ditujukan untuk membendung pengaruh komunis di pemerintah pusat?

Saat itu kita memang menghadapi dominasi komunis, untuk itu kami meminta pembubaran Kabinet PM Djuanda. Saya pernah tegaskan dalam buku saya bahwa Bung Karno memang pro komunis. Tak salah jika banyak bergabung tokoh-tokoh Masyumi mendukung PRRI/Permesta seperti Burhanuddin Harahap, Syafrudin Prawiranegara, Sultan Hamid II, atau Sumitro Djoyohadikusumo. Alex Kawilarang yang saat itu berada di luar negeri, ikut bergabung karena sebenarnya yang dihadapi adalah PKI.

Kami memang menuntut agar Hatta dan Sri Sultan HB IX membentuk kabinet baru. Kendati banyak yang tidak suka terhadap kedua tokoh itu, kami menganggap keduanya adalah orang-orang yang bijak. Apalagi di sisi lain, PM Djuanda condong ke PKI.

Jika memang berada di garis depan melawan PKI, mengapa pemerintahan Orde Baru tidak melakukan pelurusan sejarah terkait Permesta?

Justru sehari setelah Soeharto menjadi pejabat presiden, 26 Juli 1966, para tahanan militer dan sipil yang ditahan di Rumah Tahanan Militer Setiabudi dibebaskan, termasuk tokoh-tokoh Permesta. Permesta bukan pemberontak, tetapi dengan politisasi kami disudutkan sebagai pemberontak. Istri saya seorang Letkol (Purn), setiap kali naik pangkat atau pindah jabatan harus mengikuti clearance test dari BAKIN dan Bais. Istri saya selalu katakan bahwa dia menikah dengan seorang yang disebut sebagai pemberontak PRRI/Permesta. PRRI/Permesta itu bukan pemberontak. Ini harus dibetulkan dalam sejarah. Bahwa yang disebut pemberontak adalah PKI.

Jenderal Yoga Soegama selalu bersama-sama dengan saya. Jika saya pemberontak, saya sudah ditangkap, karena Yoga petinggi BISAP (Badan Informasi Staf Angkatan Perang). Hanya kami berdua ditambah Sutarto Sigit,  dahulu yang dipilih untuk mengikuti pendidikan intelijen di Inggris.

Permesta dianggap memberontak karena melawan operasi militer yang digelar TNI. Apa pertimbangannya ketika itu Permesta mengangkat senjata? Padahal diplomasi dan perundingan masih dimungkinkan, jika memang tuntutannya masalah perimbangan pusat dan daerah?

Kami memang memiliki senjata untuk menjaga diri. Karena yang melawan Permesta bukan hanya orang-orang Republik Indonesia tetapi juga PKI. Misalnya saja PKI membentuk GAP (Gerakan Anti Permesta). Jadi bisa dimaklumi jika terjadi kontak senjata dengan TNI.

Kami diminta belajar intelijen ke luar negeri agar bisa menjaga negara dan bangsa untuk tidak terpengaruh dengan hal-hal yang buruk bagi Republik Indonesia. Selain itu, kami juga memperoleh pendidikan  mengenai bagaimana menjaga supaya negara dan bangsa terhindar dari rencana-rencana jahat pihak lain.

Komunisme tidak akan pernah hilang. Jika negara memang sudah menetapkan anti komunis, sudah semestinya komunis harus dicegah. Indonesia tidak cocok dengan komunis, sudah dicoba beberapa kali, tetap hancur. Saya di Permesta melarang anggota yang condong ke komunis. Siapa saja yang melanggar akan ditangkap. Tidak boleh ada komunisme di Permesta.

Biodata:

Nama:
Mayor Inf (Purn) Dolf Runturambi

Tempat & Tgl Lahir:
Tondano, 20 Agustus 1920

Agama:
Kristen Protestan

Pendidikan:
– Holland Inlandsche School (HIS)
– Meer Uitgrebreid Lager Onderwijs (MULO)
– Kotabu Kain Yo Seijo, Makasar (1944)
– Militairy Intelegence & Security Training Course, Maresfield Camp, Southampton – Inggris (1951)
– Scotland Yard London, Inggris
– Military Police School Center, Sandhurst, Inggris (1951)
– Communist & anti-comunnist for Military Course, War College London, Inggris (1952)
– Sekolah Atase Militer, Cililitan/Kemayoran, Cimahi/Bandung (1952-1953)
– Sekolah Staf & Komando Angkatan Darat (SSKAD), Angkatan IV (1954-1955)

Karier:            :
– Instruktur Sekolah Pelayaran Angkatan Laut Jepang, Probolinggo (1945)
– BKR Laut
– Komandan BKR Laut, Probolinggo (1946)
– Wakil Kepala Staf Umum Markas Tertinggi ALRI, Lawang, Jatim (April 1946)
– Asisten I Staf Komando Divisi VI (Juli 1946)
– Asisten I (Seksi Intel/Security) & Ka.Biro Navigasi Staf Komando ALRI Pangkalan X, Situbondo,   Jatim (Oktober 46)
– Pj. Kepala Staf Pangkalan IX ALRI, Probolinggo (Juli 1947)
– Liaison Officer pemindahan ex Brigade XVI ke Jakarta (1949-1952)
– Kepala Seksi I Stafko TT-VII/TTIT bidang Intel/Security
– Kepala Biro III/Pengawasan Bangsa Asing (Biro Luar Negeri) SUAD I/MBAD (1952-1955)
– Komandan Bn. Inf. 714, Sulawesi Utara (1955-1957)

Permesta:
– Kepala Staf Gubernur Militer Sulawesi Utara (KDM-SUT) Permesta (1957-1958)
– Komandan Resimen Infanteri “Ular Hitam” KDM-SUT (Oktober 1957)
– Komandan Resimen Team Pertempuran (RTP) “Ular Hitam”/Sektor I-Sulawesi Utara (KDM-SUT) untuk PRRI, Tomohon
– Panglima Komando Daerah Pertempuran III Wilayah Bolaang Mongondow-Gorontalo (pangkat Letkol), Kotamobagu (1958-1960)
– Asisten KSAD (ADREV) PRRI, Kotambunan/Bolmong
– Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Permesta (1960-1961)

Share Button