October 17, 2018

“Daftar Mubaligh ala Menag Lukman Makin Memperparah Luka Umat Islam pada Pemerintahan Jokowi”

Lukman Hakim Saifuddin (tempo)


intelijen – Membangun Islamophobia di negeri mayoritas Islam adalah kebijakan dungu. Hati-hati umat Islam terus ditekan, pada saatnya berpotensi meletup. Sejarah membuktikan, di mana Islam ditekan, maka umat akan bergerak.

Peringatan keras itu disampaikan Direktur Centre for Strategic and Policy Studies (CSPS), Prijanto Rabbani.

Secara khusus, Prijanto mengecam upaya Kemenag yang tetap akan membuat daftar penceramah agama atau mubaligh yang terekomendasi.

Menurut Prijanto, daftar mubaligh ala Menag Lukman Hakim Saifuddin akan semakin memperparah luka umat Islam terhadap Pemerintahan Joko Widodo.

“Kasus Daftar Mubaligh oleh Menteri Agama @lukmansaifuddin makin memperparah luka umat Islam terhadap pemerintah @jokowi. Blunder besar!!! #iDeasRabbani,” tegas Prijanto di akun Twitter
@PrijantoRabbani.

Seperti disampaikan Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, sampai Rabu (23/05) daftar mubaligh yang direkomendasikan Kemenag sudah mencapai 565.

“Ya klarifikasi saja bahwa daftar Kemenag itu yang sampai 200 itu daftar yang bukan final, itu hanya daftar sementara yang baru sampai pada Kemenag yang belum divalidisasi. Jadi masih terus berkembang, di-update itu, akan terus berkembang. Hari ini sudah mencapai 565,” kata Kyai Ma’ruf kepada wartawan di kantor MUI (23/05).

Setelah daftar mubaligh dirilis, kata Kyai Ma’ruf, MUI akan mengeluarkan semacam sertifikasi kepada dai-dai. Sertifikasi itu dikeluarkan dengan syarat mubalig itu harus masuk kualifikasi yang diberikan.

“(Kualifikasi itu berupa) pertama dia mau, yang nggak mau nggak perlu. Kedua memenuhi kriteria, artinya tidak bermasalah. Itu pertama, dia kompetensinya sebagai mubalig, bukan orang nggak paham agama. Kedua, tidak bermasalah dengan pihak pemerintah, tidak ada permasalahan hukum,” jelas Kya Ma’ruf.

Share Button

Related Posts