May 25, 2018

Corp Brigade Pembangunan IPNU

dok.CBP IPNU


dok.CBP IPNU

INTELIJEN.co.id – perbukitan kabupaten Banyumas nampak puluhan remaja mengenakan kaos lengan panjang berwarna oranye sedang mengadakan latihan baris berbaris, tidak lama kemudian mereka ini mendapat pelatihan tentang Search and Rescue (SAR).

Walaupun nampak dari wajah mereka menunjukkan kelelehan, tidak tersurut dari mereka untuk berhenti dalam kegiatan tersebut. Malahan, aktivitas yang dikuti santri dan pelajar ini sangat menarik untuk diikuti.

Setelah seharian mengikuti materi yang diajarkan, dalam akhir acara selalu berkumandang Shalawat Nabi Muhammad SAW Shalatullah salamullah, ‘Ala thaha Rasulillah, Shalatullah salamullah., ‘Ala yasin habibillah. Itulah sebagaian acara yang diadakan Corp Brigade Pembangunan Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (CBP IPNU)

Materi yang diajarkan dalam pelatihan CBP IPNU mendapat spirit dari pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.  

Resolusi Jihad tersebut meminta pemerintah Indonesia untuk mengobarkan  perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, dan kontan disambut rakyat dengan semangat berapi-api.

Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur.

Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah.

Selain itu, CBP IPNU peka terhadap persoalan masyarakat, hal ini dibuktikannya pada 5 Juni 2007 terlibat aksi menolak pembangunan PLTN di semenanjung Muria Jepara Jawa Tengah

Panas yang menyengat di lapangan Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara tak menyurutkan anggota CBP IPNU bergabung dengan ribuan massa yang menghadiri acara “Aksi Bareng dan Doa Bersama Tolak PLTN Muria”.

Acara tersebut di hadiri Ketua PCNU Jepara KH Nuruddin Amin. Di harapan ribuan massa yang sebagaian warga nahdiyyin, Gus Nung-sapaan KH Nuruddin Amin mengatakan PLTN sangat berbahaya bagi masyarakat dan banyak memberikan kerugiaan daripada manfaatnya.

Program Baru

Di bawah kepemimpinan Alvin M Hasanil Haq, CBP IPNU membuat terobosan program baru yaitu penghijauan. Program ini berhasil dilaksanakan pada 8 April 2007 di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Tuban.

Kegiatan CBP IPNU ini dibantu anggota Kodim 0811, anggota PSHT, pelajar SMK Kehutanan Singgahan, dan warga sekitar lokasi hutan.

Penghijauan ini menanam enam ribu pohon di antaranya pohon mindi, mahoni, dan jarak di areal hutan seluas lima hektare.

Bahkan dari pihak tokoh masyarakat setempat, KH Noer Nasroh mengatakan kegiatan sangat bermanfaat untuk penyelamatan sumber mata air di daerah Kerawak.

Sebab, selama ini sumber mata air Kerawak sangat vital, khususnya bagi masyarakat Singgahan dan Montong, baik untuk irigasi pertanian maupun kebutuhan air minum.

Kemudian, pada 22-25 Agustus 2007 CBP IPNU mengadakan Rakornas di Samarinda. Hasil Rakornas memutuskan sasaran kegiatannya antara lain: kemanusiaan, lingkungan hidup dan bela negara.

Berdasarkan Buku Rakornas Samarinda CPB IPNU 2007. Pertama,  bidang kemanusiaan, difokuskan pada persoalan humanitas. Dalam hal ini titik tekan gerakan diarahkan pada pengabdian nyata CBP IPNU kepada aksi-aksi sosial.

Kedua, bidang lingkungan hidup, Langkah kongret yang dapat diwujudkan adalah melalui kampanye dan aksi nyata perlindungan alam.

Sebagai langkah utama adalah penyadaran masyarakat  tentang pentingnya lingkungan bagi kesejahteraan bersama.

Ketiga, bidang bela negara, CBP IPNU perlu menunjukan jati dirinya sebagai sebuah lembaga yang memiliki kewajiban untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dalam bentuk sederhana ranah bela negara dapat diaplikasikan dengan mencegah bangsa Indonesia dari disintegarsi bangsa.

Bela negara dalam koridor ini tidak selalu berkonotasi dengan hal fisik, tetapi bagaimana peran CBP IPNU mampu mewujudkan cita-cita UUD dan Pancasila.

Dalam kancah global, perang secara fisik tidak terlalu tampak. Tetapi perang ideologi dan kepentingan menjadi musuh utama.

Disinilah dibutukan sebuah strategi bagaimana membentengi kepribadian bangsa Indonesia dari berbagai ideologi-ideologi yang bertentangan dengan semangat UUD dan Pancasila serta paham ahlusunnah wal jamaah.

Langkah yang utama perlu ditanamkan kepada generasi muda atau pelajar adalah memberikan sebuah pemahaman ideologi yang mapan. Bahwa budaya global tidak semuanya baik untuk diaplikasikan dalam sebuah wadah NKRI

Sejarah CBP IPNU

Berdasarkan perbincangan INTELIJEN dengan Alvin Hasanil Haq koordinator nasional CBP IPNU. Lembaga lahir karena situasi Indonesia mendapat ancaman dari negara asing yaitu ingin kembalinya Belanda menguasai Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut pria kelahiran Semarang ini, IPNU yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan mendapat spirit Resolusi Jihad KH Hasyim Asya’ari,  di bawah kepemimpinan Asnawi Latif, IPNU membentuk sukarelawan pelajar.

Lanjut kata alumni IAIN Walisongo Semarang, kemudian situasi bangsa Indonesia terjadi kekacauan politik yang diakibatkan PKI, maka pada acara Kombes IPNU yang berlangsung  23-25 Oktober 1964 di Pekalongan, IPNU mendirikan lembaga kesatuan yaitu Corp Brigade Pembangunan IPNU.

“Pada saat penumpasan pemberontakan PKI 65, CBP IPNU  berperan aktif dengan memobilisasi kader IPNU untuk memerangi PKI, “ ungkapnya.

Memerangi PKI dilakukan dengan dua langkah. Pertama, ikut serta didalam menumpas gerakan PKI yang merambah di masyarakat.  Kedua, memberikan sebuah penerangan kepada masyarakat bahwa paham komunis bertentangan dengan ideologi pancasila.

Langkah sebagai bagian dari perjuangan IPNU untuk mewujudkan memantapkan NKRI dengan paham ahlusunnah waljamaah sebagai urat nadi perjuangan.

Langkah ini ditempuh sebagai sebuah konsekuensi perjuangan IPNU yang tidak selaras dengan ideologi komunis. Ideologi komunis lebih mengedepankan aspek sosialisme dan anti ketuhanan.    

Dengan Berakhirnya Orde Lama dan Soeharto memimpin Orde Baru,  CBP IPNU diarahkan untuk mengawal pembangunan. Kemudian lahir juga Brigade Pertanian, Brigade Perekonomian, Brigade Perdagangan dan Brigade Pendidikan.

“Jadi kader-kader tersebut yang telah dididik ditugaskan di daerah yang membutuhkan pembangunan. Jadi tugas yang dijalankan lebih positif bagaimana membantu pemerintah untuk mengawal pembangunan dalam mengisi kemerdekaan, “ ungkap Alvin. (repro INTELIJEN)

Share Button