December 17, 2018

China Dituding Retas dan Curi Data Angkatan Laut AS

Ilustrasi


intelijen – Hacker pemerintah Cina dilaporkan telah berhasil meretas komputer dari kontraktor Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan mencuri sejumlah data sensitif. Data yang berhasil dicuri antara lain tentang peperangan bawah laut, termasuk rencana untuk rudal anti kapal supersonik kapal selam AS.

Surat kabar Washington Post menjadi yang pertama melaporkan hal ini mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

“Aksi ini terjadi pada bulan Januari dan Februari lalu,” pejabat tersebut mengatakan kepada Washington Post. Pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonimitas tentang investigasi yang sedang berlangsung yang dipimpin oleh Angkatan Laut dan dibantu oleh Biro Investigasi Federal (FBI).

FBI tidak segera menanggapi permintaan Reuters untuk memberikan komentar.

“Berdasarkan peraturan federal, ada langkah-langkah di tempat yang mengharuskan perusahaan untuk memberi tahu pemerintah ketika ‘insiden siber’ telah terjadi yang memiliki efek merugikan aktual atau potensial pada jaringan mereka yang berisi informasi tidak terkontrol yang dikendalikan. Tidaklah tepat untuk membahas perincian lebih lanjut saat ini,” kata Angkatan Laut AS seperti dikutip Reuters, Sabtu (9/6/2018).

Pejabat tersebut mengatakan peretas menargetkan seorang kontraktor yang bekerja untuk Naval Undersea Warfare Center, sebuah entitas militer yang berbasis di Newport, Rhode Island. Namun ia tidak mengidentifikasi kontraktor tersebut.

“Materi yang diretas terdiri dari 614 gigabyte yang berkaitan dengan proyek yang dikenal sebagai Sea Dragon, serta data sinyal dan sensor, informasi ruang radio bawah laut yang berkaitan dengan sistem kriptografi dan perpustakaan perang elektronik kapal selam Angkatan Laut kapal induk,” Washington Post melaporkan, mengutip para pejabat.

Surat kabar itu mengatakan telah sepakat untuk menahan beberapa rincian tentang proyek rudal yang dikompromikan setelah Angkatan Laut mengatakan perilisan mereka dapat membahayakan keamanan nasional.

“Data yang dicuri itu bersifat sangat sensitif meski disimpan di jaringan tidak terklasifikasi milik kontraktor,” tulis Washington Post, mengutip para pejabat.

Share Button

Related Posts