March 24, 2019

Cerita tentara KNIL pilih gabung Indonesia daripada Belanda

Agresi Militer Belanda II. ©istimewa


intelijen – Iwan Santosa, penulis buku KNIL mengatakan pasca Perang Dunia II prajurit KNIL terpecah menjadi dua. Ada yang memilih bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ada pula yang kembali ke Belanda untuk melanjutkan tugas dan jabatannya.

“Prajurit KNIL itu disumpah setia. Siapa yang mau mempertahankan sumpah setia maka bertahan. Itu pilihan setiap orang,” tutur Iwan dalam peluncuran bukunya di Gramedia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (2/6).

Iwan menambahkan, pada dasarnya kukuhnya NKRI tidak lepas dari kontribusi prajurit KNIL. Pasalnya prajurit profesional yang semula menjadi militer bayaran di Kerajaan Hindia- Belanda itu akhirnya totalitas mempertahankan keutuhan bangsa seperti Oerip Soemohardjo, Didi Kartasasmita hingga I Gusti Ngurah Rai.

“Meski menjadi prajurit kekuatan asing seperti para serdadu Sepoy di Anak Benua (India, Pakistan dan Bangladesh), para prajurit KNIL pada gilirannya pun memiliki kesadaran untuk berdiri bagi bangsanya dan turut menjadi bagian dari TNI modern pasca Perang Dunia II,” terang Iwan.

Bahkan, kata dia, beberapa petinggi organisasi berjuang hingga gugur untuk Indonesia yang baru merdeka seperti Overste (Letkol) I Gusti Ngurah Rai dan pasukan Ciung Wanara dalam puputan Margarana di Bali tahun 1946. Selain itu, keberadaan KNIL sebagai organisasi formal dari tentara bayaran berbagai kebangsaan sejak abad 17 yang dibina Serikat Dagang Belanda VOC itu menjadi inspirasi pembentukan organisasi Legiun Asing Prancis hingga Legiun Spanyol.

KNIL, lanjut Iwan, semasa Perang Aceh 1873-1904 menjadi pelajaran berharga tentang perang gerilya dan pembentukan pasukan khusus. Penguasa Belanda ketika itu membentuk Korps Marechausse (Marsose) yang merupakan prajurit pilihan serdadu terbaik. Operasi gerilya lawan gerilya merupakan konsep yang mengharuskan prajurit hidup seperti lawannya. Hingga hari ini, konsep itu yang terpatri dalam jiwa prajurit militer bangsa Indonesia.

“Para personel KNIL diajarkan menjadi militer profesional dan tidak terlibat dalam kehidupan politik, apalagi berpolitik praktis dalam masyarakat selaku anggota militer. Mungkin itu salah satu warisan tradisi KNIL yang bisa dipelajari dalam era Indonesia Modern,” tuntasnya. (Merdeka)

Share Button

Related Posts