August 20, 2018

Brigade Hizbullah, Fokus Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan



Gempa dan tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada akhir Desember 2004 menyisakan duka yang mendalam, tidak hanya korban yang telah kehilangan keluarga dan harta benda. Namun juga kesedihan bagi bangsa Indonesia dan dunia.

Ternyata, secara otomatis, bencana tersebut telah menggerakkan hati warga Indonesia, khususnya anggota Brigade Hizbullah untuk berbagi rasa dan kepedulian dengan memberikan bantuan bagi para korban.  

Antusiasme anggota Brigade Hizbullah untuk menggalang bantuan berupa dana maupun barang bagi saudara-saudara di NAD yang tertimpa musibah sangatlah tinggi.

Tidak tanggung-tanggung satu hari setelah musibah tersebut terbentuklah tim relawan Brigade Hizbullah yang bertugas untuk mengkoordinir keinginan anggota Brigade Hizbullah lainnya untuk ikut serta meringankan beban korban bencana alam yang maha dahsyat itu.

Tim relawan Brigade Hizbullah bertugas untuk mengkoordinasikan berbagai kegiatan, seperti misalnya mengumpulkan donasi, baik berupa dana maupun barang; mencari barang-barang ke pusat perbelanjaan untuk kemudian dikirim ke daerah bencana, pengepakan, dan lain-lain.

Rasa kepedulian itu, tidak hanya milik anggota Brigade Hizbullah yang berada di Ibu Kota, namun juga merambah ke semua daerah yang memiliki basis kekuatan Brigade Hizbullah seperti Sumatera Barat, Mataram, Solo untuk berbagi kasih dengan sesamanya melalui tim relawan ini.

Kemudian Relawan Brigade Hizbullah bekerjasama dengan Bulan Sabit Merah berangkat menuju NAD. Mereka ini cukup terlatih dalam bidang medis.

Ketika mereka menginjakkan di bumi Serambi Mekah, semilir angin menyapu wajah mereka, bau angin dari arah laut itu terasa aneh. Tidak menyengat sebenarnya, tetapi sangat tidak nyaman. Entah bagaimana menyebutnya. Semacam perpaduan antara bau busuk, anyir tanah lumpur dan genangan air yang berhari-hari tak punya tempat mengalir.

Sebagian besar rumah di kawasan padat penduduk itu telah rata dengan tanah. Hanya tersisa beberapa bangunan berlantai dua yang secara konstruksi memang lebih kokoh.

Setelah berdiskusi sebentar para relawan ini langsung mengeluarkan kantong mayat dan mencari beberapa mayat yang belum terurus.

Aksi Sosial

Setelah selesai diikat, kantong mayat digotong menuju jalan. Hujan yang mengguyur Banda Aceh malam sebelumnya membuat para relawan ini harus berjalan terhuyung-huyung di tengah tanah yang becek dan berair.

Mereka menggeletakkan kantong berisi mayat itu di pinggir jalan, lantas berlalu lagi menuju reruntuhan untuk mencari mayat yang lain.

Tak berapa lama, sebuah truk berisi delapan anggota TNI melintas di jalan tersebut. Tanpa dikomando, pengemudi truk langsung berhenti di sisi kantong mayat yang baru digeletakkan para relawan.

Empat tentara bersenjata lengkap berloncatan dari bak truk itu. Dengan sigap mereka angkat kantong mayat dan memuatnya ke dalam bak.

Di Banda Aceh, juga kota-kota di sekitar negeri Tanah Rencong yang terkena musibah gempa dan tsunami, bertemu mayat sudah menjadi urusan biasa.

Yang cukup membuat banggsa relawan Brigade Hizbullah selalu menarik perhatian. Tiap kali mereka melaksanakan tugas pertolongan medis mengobati para korban luka akibat tsunami maupun mengangkat mayat raut wajah mereka dari awal hingga akhir tak pernah absen dari senyum.

Sesaat setelah tiba di Banda Aceh, Relawan Brigade Hizbullah segera mengobati korban luka-luka selama empat jam nonstop tanpa istirahat di tenda posko. Sebut saja, Ahmad Sodik, salah satu relawan Brigade Hizbullah yang sudah berpengalaman sebagai relawan medis melihat kondisi para korban bencana, sangat terharu dan trenyuh.

Demi menyelamatkan lebih banyak nyawa para korban luka, selama beberapa hari berikutnya, Ahmad Sodik bersama relawan Brigade Hizbullah lainnya berjuang keras. Selama sembilan hari, mereka telah mengobati lebih dari 400 orang.

Di siang hari Ahmad Sodik pergi ke lokasi bencana menolong para korban luka, malam harinya ia juga masih amat sibuk. Di antara rekan-rekan sesama timnya, dia dikenal karena kecermatan dan ketelitiannya.

Lain halnya dengan relawan Brigade Hizbullah bernama Iqbal. Di tengah memberikan bantuan medis pada masyarakat Aceh. Ada ada seorang anak perempuan Aceh berusia kurang lebih sepuluh tahun bernama Aminah dibawa oleh ibunya menemui Iqbal.

Iqbal segera memeriksa kondisi anak ini dengan teliti, kelihatan sekujur tubuh anak ini membiru kecoklatan, kulit tubuhnya terluka terkena air laut dan sudah terinfeksi.

Iqbal segera membersihkan semua lukanya dan mengganti obatnya. Gadis kecil ini mulai tersenyum, berkata kepada ibunya bahwa ia sudah tak begitu merasakan sakit lagi.

Senyum dan tawa gadis kecil ini sungguh meninggalkan kesan amat dalam bagi Iqbal. Dia bertekad akan mengupayakan agar lebih banyak lagi anak-anak bisa tertawa dan tersenyum.

Tiap kali Iqbal datang mengadakan pengobatan, di belakangnya selalu mengekorinya suara-suara riuh rendah anak-anak kecil.

Nampak sekali di sanubari anak-anak itu, Iqbal adalah orang yang paling disukai mereka. Tiap kali di tengah-tengah proses pengobatan, dia selalu berusaha berkomunikasi dengan anak-anak baik dengan kata-kata dan tersenyum untuk menghibur anak-anak

Sang Komandan

Aktivitas Brigade Hizbullah tentunya tidak bisa dilepaskan dengan sosok figur komandannya. Hangat dan kebapakan itulah yang INTELIJEN rasakan saat melakukan wawancara dengan Afriansyah Noor.

Pada usia yang baru menginjak 36 tahun, ia sudah memegang  puncak pimpinan perusahaan. Tentu hal itu tidak mudah, perlu usaha keras dan berdo’a, begitulah pengakuan anak muda ini

Jiwanya begitu lengkap, dahsyat, dan berapi-api. Jika di perhatikan tuturnya sejenak, nampak terkesan seolah dunia mau direngkuhnya dalam sesaat. Persis seperti Leonardo Davinci, seniman legendaris dari Jerman.

Menurut pengakuannya, semua masalah mulai dari ekonomi, social, budaya, dan juga politik, mampu dipahaminya dengan system thingking. Yaitu dengan mendeteksi dan memahami semua komponen yang terlibat, lalu masing-masing komponen dicari keterkaitannya. Semua itu dibuat simulasinya

Daya jejalah Afriansyah memang gila, tidak hanya ilmu-ilmu eksak dilahapnya. Jiwa ilmuan sekaligus praktisi terus diasahnya.

Kini ia ingin mengaplikasikan basic ilmu eksaknya (teknik sipil) dalam dunia politik dengan bergabung di Brigade Hizbullah, sayap politik PBB.

Lika-liku perjalanan hidup pria tinggi besar kelahiran Jambi, 20 April 1972 memang patut diacungi jempol. Pria yang sekarang menjadi Caleg PBB ini sudah kenyang asam garam dengan organisasi mulai dari OSIS, Pramuka, dan FKMTSI (Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia)

Karena berasal dari keluarga besar Masyumi, Ia sudah terbiasa membaca buku-buku pemikiran tokoh Masyumi seperti M. Natsir, Farid Prawiranegara. Darah politisinya mengalir dari sang kakek, Datuk Samsul Nursalim.

Kakeknya merupakan tokoh Masyumi dan Muhammadiyah Sumatera Tengah. Bahkan neneknya meneteskan air mata tatkala cucunya-Afriansyah Noor memperlihatkan kartu anggota PBB. (repro INTELIJEN Nomer 14/Tahun TH V/2008)

Share Button