December 12, 2018

Bank Indonesia Diminta Hati-Hati Intervensi Rupiah

Bank Indonesia (ist)


intelijen – Nilai tukar rupiah sempat menembus angka Rp13.900 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) dinilai perlu berhati-hati dalam melakukan intervensi terhadap pelemahan rupiah.

Menurut Head of Economic and Market Research UOB Enrico Tanuwidjaja, BI harus terus mengawasi dan memonitor pergerakan rupiah agar tetap pada level yang aman. “Sebenarnya ultimate goal dari sentral bank adalah untuk menjaga kestabilan,” kata Enrico saat pelatihan wartawan BI di Mataram, Nusa Tenggara Barat akhir pekan ini.

Dia melanjutkan, pelemahan mata uang rupiah tidak bisa dilihat berdasarkan levelnya saja. Pelemahan mata uang rupiah juga bisa dilihat dari besarnya gejolak (volatilitas) rupiah terhadap dolar AS yang dapat mempengaruhi kondisi dalam negeri. “Mau level berapa pun bisa, tapi kita lihat mematok forecast 23 market rupiah di sekitar Rp13.750-an, secara gradual. Masalah level itu bukan berarti pertanyaan utama. Tapi seberapa volatile untuk bisnis agar lebih stabil,” jelas dia.

Enrico juga menilai bahwa sentimen kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih menjadi salah satu faktor yang menahan apresiasi rupiah terhadap dolar AS. “Risiko kenaikan suku bunga Fed bisa berdampak ke pembalikan modal dan berdampak negatif bagi rupiah,” papar dia. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Fed cukup tinggi, yakni tiga hingga empat kali kenaikan seiring dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

Pada kesempatan sama, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan terutama disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Tekanan terhadap rupiah terutama disebabkan oleh perbaikan indikator ekonomi AS yang diikuti ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga FFR yang lebih agresif, serta risiko berlanjutnya perang dagang AS-China.

Hal tersebut mendorong pembalikan modal asing dan tekanan depresiasi nilai tukar pada berbagai mata uang dunia, termasuk Indonesia. Namun, dengan didukung langkah stabilisasi yang ditempuh BI serta sejalan dengan tetap terkendalinya inflasi, kenaikan peringkat utang Indonesia, dan surplus neraca perdagangan yang mendorong aliran masuk investasi portofolio asing, rupiah kembali stabil pada paruh pertama April 2018.

“Rupiah rata-rata melemah sebesar 1,13% namun rupiah kembali stabil pada paruh pertama bulan April 2018 yang didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan sentimen positif kenaikan rating,” jelas Firman.

Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar. “Pasti BI akan jaga volatilitasnya, dilakukan stabilisasi nikai tukar. Diharapkan ke depan tekanan akan mereda,” pungkasnya.

Share Button

Related Posts