May 24, 2018

ASIS, Intel Australia Penuh Kontroversi: Terlibat Rencana Serang Irak (1)



INTELIJEN.co.id – Sejatinya operasi intelijen selalu bersifat rahasia dan sangat tertutup, namun sedikit berbeda dengan Australia, operasi yang dilakukan oleh badan intelijennya sering kali diketahui umum dan menuai kontroversi.

Penyerangan pasukan perdamaian yang dipimpin oleh AS ke Irak pada 2001 menuai kontroversi di berbagai belahan dunia.

Berbagai pihak menentang penyerangan tersebut, karena dianggap berlatarbelakang kepentingan minyak. Meski AS bersikeras penyerangannya terhadap Irak dengan alasan Sadam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal.

Selang beberapa waktu, terkuak bahwa informasi yang diberikan oleh CIA dan MI6 mengenai keberadaan teroris di Irak adalah salah. Hal ini, tentu, membuat malu badan intelijen kedua negara tersebut.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa selain CIA dan MI6, masih ada badan intelijen lain yang ikut mencari informasi mengenai keberadaan nuklir di Irak, yakni Australian Secret Intelligence Service (ASIS).

Dalam penyelidikan awal yang dilakukan oleh AS, CIA mempelajari data yang diperoleh ASIS mengenai perjanjian jual beli tabung alumunium berkode 7075-T6 antara Irak dan Cina.

Perjanjian jual beli dua negara tersebut dilakukan melalui seorang bernama Garry Cordukes, direktur perusahaan Australia, International Alumunium Supply. Perusahaan ini adalah rekanan perusahaan asal Cina pembuat tabung alumunium yang bernama Kam Kiu Property Limited.

Agen ASIS mencurigai pernjanjian jual beli tersebut dilakukan untuk memenuhi program penelitian Irak yang sedang membangun senjata nuklir. Oleh karena itu, agen ASIS mengambil tube alumunium itu untuk diteliti. Agen CIA juga terlibat dalam penyelidikan ini.

Pihak Australia tidak hanya mengirimkan ASIS dalam menyelidiki hal itu. Otoritas Australia mengirimkan juga beberapa agen intelijen yang berasal dari badan intelijen yang berbeda. Data hasil penyelidikan beberapa badan intelijen ini kemudian dijadikan sebagai data awal dan alasan mengapa AS menyerang Irak.

Penyelidikan mengenai perjanjian jual beli tabung alumunium antara Irak dan Cina ini dilakukan pada 2000-2001, sebelum AS beserta sekutunya menyerang Irak.

Kabar mengenai keterlibatan badan intelijen Australia ini baru diketahui pada 2003, ketika media massa AS, Washington Post menulis artikel mengenai kejadian tersebut.

Tak heran, hal ini kemudian menjadi sebuah kontroversi tersendiri. Selama ini dunia hanya tahu bahwa laporan keberadaan nuklir di Irak, diberikan oleh CIA dan MI6, bukan oleh ASIS.

Share Button