August 17, 2018

AR Consultant, Tak Sepelekan Info Kecil

dok.INTELIJEN


dok.INTELIJEN

INTELIJEN.co.id – Akhir Mei 2006 seseorang menelpon Asep Rahmatan untuk menemuinya di hotel berbintang di Jakarta. Beberapa menit kemudian Asep meluncur ke hotel dan menemui orang tersebut.

Asep sangat terkejut karena di hadapannya seorang petinggi di negeri ini. Pejabat ini menginginkan Asep untuk menyelesaikan persoalan yang terkait Lapindo di Porong Sidoarjo.

“Kamu mantan agen CIA harus bisa menyelesaikan kasus Lapindo.”
“Sekarang kamu berangkat, semua tiket pesawat sudah kami siapkan.”

Seketika itu, Asep pamitan pada keluarganya untuk berangkat ke Sidoarjo. Lima jam kemudian ia sampai di lokasi semburan lumpur Lapindo yang menghancurkan beberapa rumah penduduk.

Wajah penduduk setempat sedih diliputi emosi yang tinggi. Muncul selentingan di telinga Asep, sebagian warga korban Lapindo akan membakar kantor Lapindo. Langkah selanjutnya ia mendatangi tokoh-tokoh setempat.

Asep pun tidak segan mencium tangan tokoh setempat dan meminta informasi kondisi warga korban Lapindo. Ia pun melihat adanya beberapa tokoh masyarakat yang mencoba memprovokasi korban Lapindo bertindak anarkis.

Asep pun mendekati tokoh tersebut. Ia pun mengajak berbicara dari hati ke hati. Tidak jarang Asep mendatangi rumahnya bahkan mengajaknya makan. Dalam setiap pertemuan, justru Asep yang mengajak demo warga Porong menuntut keadilan.

Permintaan ini diamini tokoh tersebut. Walaupun begitu tokoh masyarakat tersebut sudah “dipegang” Asep. Antusiasme warga korban Lapindo untuk berunjuk rasa sangat tinggi. Mereka dengan swadaya mempersiapkan peralatan unjuk rasa seperti pengeras suara, kertas maupun mobil.

Hampir empat tahun Asep menemani korban Lapindo. Tugasnya hanya ingin menjaga jangan sampai korban Lapindo bertindak anarkis. Ia pun mempersilahkan korban untuk melakukan unjuk rasa tapi harus sesuai dengan aturan.

Pada saat peringatan satu tahun lumpur Lapindo. Warga masyarakat dihantui perasaan takut karena adanya isu aksi kekerasan oleh aparat keamanan. Tapi semua bisa dikendalikan.

Akhirnya terjadi unjuk rasa yang dihadiri ribuan korban lumpur Lapindo. Aksi digelar oleh kelompok korban lumpur dari empat desa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Korban Lumpur empat desa dan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera.

Mereka mengambil lokasi di areal pusat semburan lumpur. Dalam tuntutannya mereka meminta pihak Lapindo dengan segera memberikan ganti rugi.

Warga juga menuntut percepatan proses pembayaran ganti rugi plus dihapuskannya diskriminasi atas tanah bersertifikat dan tidak bersertifikat. Aksi unjuk rasa ini berlangsung dengan damai.

Selama hampir bertugas empat tahun di lokasi lumpur Lapindo, Asep Rahmatan berhasil mengkondisikan masyarakat tidak bersikap anarkis. Bahkan ia pernah menggagalkan adanya upaya penggalangan korban Lapindo yang akan berunjuk rasa di Jakarta.

Penyelidikan

Bagaimana cara kerja AR Consultant? Kepada INTELIJEN Asep Rahmatan menceritakan panjang lebar pengalaman menangani klien maupun trik yang ia gunakan untuk mendapatkan informasi.

“Halo, selamat siang pak. Bisa saya bantu?”  resepsionis bertanya ramah di telepon. “Ya, begini mbak, teman saya Rony, siang tadi chek in di hotel ini. Saya lupa di kamar berapa. Catatannya hilang, padahal saya harus segera ketemu. Bisa tolong dicek, mbak!” pinta Asep lewat ponselnya.

“Baik, sebentar.”  Sejenak resepsionis mengetikkan sesuatu di komputernya, lalu, “Halo, tamu atas nama Pak Rony ada di kamar 6012. Mau saya hubungkan pak?”

“Oh, tidak terima kasih. Saya langsung ke sana saja.”

Telepon langsung ditutup.

Asep mencatat informasi tadi di buku kecil untuk bahan laporannya ke klien. Salah satu hasil pekerjaan seorang penyelidik adalah laporan tentang segala hal menyangkut target selama jangka waktu tertentu.

Menurut mantan agen CIA ini laporan ke klien memuat detail segala hal tentang target. Segala tindakan yang dilakukan, pertemuan dengan seseorang, kendaraan yang dipakai, barang-barang yang dibeli, uang yang ditransfer, dan lain sebagainya.

Anggota AR Consultant yang bertugas dilengkapi catatan waktu serta foto sebagai bukti penguat. Foto tidak perlu terlalu bagus, yang penting terlihat jelas obyeknya. Kalau memang diperlukan, penyelidik juga bisa menyediakan salinan dokumen tertentu.

Tim penyelidik  AR Consultant menyediakan dan melakukan apa saja untuk klien, sejauh itu tidak melanggar hukum. Pengintaian terhadap seseorang sah-sah saja.

Kata Asep pekerjaanya bisa menyadap pembicaraan, termasuk menyadap telepon, dan mengintai ruangan secara sembunyi-sembunyi memakai kamera kecil.

Kadang ada klien yang salah mengerti tentang pekerjaan seorang penyelidik. Asep misalnya, pernah diminta menjebak seseorang, menagih utang, sampai menculik anak karena terjadi perebutan hak perwalian. Mungkin, klien seperti itu mengira penyelidik tak beda dengan preman.

Tentu saja permintaan aneh-aneh itu ditolak. Malah Asep selalu berusaha agar klien tidak memakai laporan hasil penyelidikan untuk tindakan kriminal. “Kalau sampai terjadi sesuatu, penyelidik juga bisa kena hukuman,” Asep menjelaskan risikonya.

Maka, pada setiap penyelidikan, paling tidak ia harus selalu memastikan motif klien. Kalau perlu menyelidiki latar belakang klien.

Asep berkisah, pernah mendapat klien yang mencari seseorang (keduanya pria warga negara asing) di Indonesia. Singkat cerita, Asep berhasil menemukannya. Malah dalam laporannya, seperti permintaan klien, komplet termuat seluruh data diri dan keluarga target, termasuk jadwal ekstrakurikuler sekolah sampai jajanan kesukaan anaknya.

Tapi belakangan Asep tahu, klien rupanya mendendam karena target telah berselingkuh dengan istri klien. Asep pun berusaha sekuat tenaga agar klien tidak berbuat macam-macam. Apalagi klien merupakan anggota sebuah dinas rahasia negara asing yang mempunyai jaringan kuat untuk berbuat kekerasan.

Untunglah klien menurut. Alhasil, laporan penyelidikan dipakai untuk menggertak target saja. “Kalau kamu menggoda istri saya lagi, tahu sendiri akibatnya!” ancam klien seraya menunjukkan laporan penyelidikan yang seolah “menelanjangi” target.

Mata target terbelalak. Ia terkejut bukan main, sadar akan kesalahannya, lalu minta maaf. Persoalan dianggap selesai.

Bahkan target akhirnya sempat curhat bahwa perselingkuhannya itu sebenarnya dipicu oleh tindakan istrinya yang berselingkuh juga. Mungkin karena persamaan nasib itu, kabarnya saat ini antara klien dan target malah berteman baik. Fiuuuh… Asep bernapas lega.

Tak salah ungkapan yang menyatakan: menunggu memang pekerjaan membosankan. Tapi bagi penyelidik, menunggu sudah menjadi santapan harian. Terutama saat melakukan pengintaian. Berjam-jam, atau berhari-hari berada di tempat yang sama, harus dilakoni.

Menurut Asep dalam sebuah pengintaian, persiapan haruslah matang. Makanan, minuman, termasuk cara buang air kecil, harus dipikirkan benar. Beberapa jam sekali, dilakukan pergantian shift dengan teman satu tim. Selain agar pengintai tidak kelelahan, juga untuk menghindari kecurigaan orang.

Kendaraan

Mobil untuk mengintai biasanya berjenis minibus seperti Toyota Kijang atau Isuzu Panther. Memakai mobil sedan justru dapat menarik perhatian. Mobil juga harus diganti setiap hari, karena itu biasanya dipakai mobil sewaan. Jika harus bergerak membuntuti target, sepeda motor ikut dikerahkan agar tidak kehilangan jejak.

Kewaspadaan tetap harus terjaga meski harus menunggu sekian lama di suatu tempat. Penyelidik tidak boleh lengah agar target tidak terlepas dan tetap selalu harus mencatat perkembangan sekecil apa pun. Prinsipnya, informasi sekecil apa pun yang didapat, bisa mengarahkan ke informasi baru.

Tapi yang tak kalah penting, perlu dipastikan bahwa pengintaian itu tidak diketahui pihak lain. Maka harus selalu dibuat pengintaian berlapis, yakni seorang pengintai harus diawasi rekan satu tim untuk memastikan keamanannya.

Kata Asep, counter surveillance semacam ini sebenarnya ada dalam teori dasar pengintaian di mana pun. Cuma satu orang yang tidak melakukannya, yaitu James Bond. Dan itu di film!

Jika target pergi ke luar kota, atau ke luar negeri, penyelidik harus pula membuntuti. Biaya pengintaian memang mahal dan bisa membengkak. Namun biasanya penyelidik minta persetujuan klien terlebih dahulu. Maklum, pengeluaran ini biasanya di luar kesepakatan pada harga awal.

Bagi Asep, mengintai di “kampung lain” mendatangkan tantangan tersendiri. Walau sebenarnya tingkat kesulitan di beberapa kota di Asia Tenggara kurang lebih sama dengan Jakarta. Tapi ceritanya akan lain jika harus masuk ke Singapura.

Prosedur keamanan Negeri Singa terkenal sangat ketat. Penciuman pihak intelijen tajam. Polisi juga bergerak cepat. Asep merasa perlu untuk mempelajari seluk beluk negeri itu secara cermat sebelum beraksi.

Soal sistem transportasi, jalan-jalan alternatif, kecepatan reaksi polisi, dan sebagainya. “Semua bahannya ada dari internet,” katanya. (repro INTELIJEN)

Share Button