December 13, 2018

Amien Rais Cerita Saat dia Tumbangkan Soeharto 20 Tahun Lalu

Amien Rais (ist)


intelijen – Bulan Mei 1998, desakan agar Presiden Soeharto mundur makin kuat. Namun penguasa Orde Baru tersebut tetap berkeras menyatakan akan mundur dalam Pemilu yang digelar tahun 2000. Hal itu dinilai sejumlah pihak hanya upaya Soeharto untuk mengulur waktu.

Amien Rais berencana menggelar aksi massa dengan long march di Monas tanggal 20 Mei 1998. Puluhan ribu orang dari berbagai elemen diperkirakan akan menghadiri konsolidasi nasional tersebut.

Tanggal 19 Mei 1998, Amien Rais mengaku mendapat panggilan malam dari Mabes TNI di Cilangkap, Jakarta Timur.

Tepat setelah salat Isya, dering telpon dari seorang jenderal berbintang dua memberi peringatan, bahwa jangan sampai ada aksi massa pada 20 Mei 1998 di Monas Jakarta Pusat. Saat itu, Amien mengaku telah ditunggu ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang menyuarakan penggulingan Soeharto.

“Saya benar-benar lupa namanya, Mayjen siapa gitu. Dia bilang tolong 20 Mei yang syukuran reformasi di Monas tolong dibatalkan,” cerita dia dalam acara Refleksi 20 tahun Reformasi di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (21/5).

Peringatan didapat Amien bahwa jika tetap dilangsungkan, maka apa pun yang akan terjadi sudah di luar kuasa. Mendengar hal tersebut, dia pun bergegas menuju lokasi aksi sekira pukul 2 dini hari.

Dia mengaku melihat barikade militer telah bersiap dengan gulungan kawat berduri dan mobil panser. Amien bertanya untuk apa hal tersebut. Namun personel TNI di lokasi mengatakan belum ada perintah.

Tak butuh waktu lama, Amien pun memilih menuruti peringatan sang jenderal. Menjelang waktu subuh, pada pukul 4 dini hari, dia melakukan konferensi pers menyerukan pembatalan aksi.

“Setelah saya yakin, bahwa kalau massa datang berdatangan dan out of control, maka jam 4 pagi saya adaka konferensi pers. Saudara yang datang buat syukuran reformasi di Monas harus dibatalkan, dan kalau ada yang kecewa itu adalah saya sendiri, jadi berdoalah di tempat ibadah sebagai gantinya kita kumpul di MPR secara damai,” tandas Amien kala mengenang momen tersebut.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional digeser ke Gedung DPR/MPR yang dikuasai ribuan mahasiswa. Amien Rais saat itu jadi bintang. Dia dielu-elukan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto segera mundur. Amien lah satu-satunya tokoh nasional yang diizinkan mahasiswa masuk dari gerbang utama DPR.

“Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah,” kata Amien disambut teriakan gegap gempita mahasiswa.

Sejarah mencatat, keesokan harinya, tepat pukul 09.00 WIB, Presiden Soeharto berpidato mengumumkan pengunduran dirinya. Tepat 21 Mei, 20 tahun lalu.

Sumber: Merdeka

Share Button

Related Posts