October 23, 2018

Ali Mocthar Ngabalin, Megawati dan Tuhan: Tinjauan Atas Agama dan Kekuasaan

Ali Mocthar Ngabalin


intelijen – “Jokowi adalah wakil Tuhan di muka bumi”, demikian kata Ali Mocthar Ngabalin (AMN) yang viral belakangan ini.

AMN bukan sembarang dalam ilmu agama. Keahliannya dalam kajian Islam sangat dalam, sebab dia adalah alumni universitas Islam tertua di dunia, Al Azhar, Mesir.

Pemberian gelar terhadap Jokowi “Wakil Allah di muka bumi” tentu menimbulkan kontrovesi. Sebab, gelar ini, jika dikaitkan dengan kepemimpinan politik kekuasaan, tidak banyak orang yang mampu menerima beban gelar tersebut.

Soekarno, pemimpin besar revolusi Indonesia, misalnya, hanya bergelar “Amirul Mukmin”, sebuah gelar yang mengaitkan kepemimpinannya dengan orang orang mukmin, alias orang orang beriman, alias masih manusia juga. Suharto, meskipun dalam 10 tahun terakhir kekuasaannya berusaha merangkul ummat Islam, tidak berani menyandang gelar terkait keislaman. Suharto hanya senang dengan gelar “Bapak Pembangunan”. Barulah Gus Dur berani dipanggil Wali Allah. Itupun karena Gus Dur dipercaya sebagai pemimpin yang mengetahui agama dengan benar, serta mempunyai silsilah keturunan ulama besar di Indonesia.

Wali Allah ataupun “Kalifatullah fi al-ardh” merujuk pada Quran surah AlBaqarah-30 dan Surah Shad (Qs 38:26) haruslah seperti Nabi dengan kemampuan memutuskan perkara dengan kebenaran (truth) dan keadilan (justice).

Penilaian AMN ini tentu saja mengandung dua hal penting, 1) AMN menunjukkan bahwa klaim Megawati bahwa Jokowi hanyalah petugasnya atau petugas partai PDIP terlalu merendahkan. 2) Jokowi bukanlah sosok sekuler yang menihilkan kebenaran hari akhir (akhirat) seperti Megawati.

Sebagai Wali Allah, Jokowi, menurut AMN bukan lagi mewakili partai atau bahkan manusia, melainkan mewakili Tuhan. Mewakili partai terbatas pada kepentingan partai dan atau Megawati, baik visi maupun kepentingannya. Mewakili Tuhan tentu mewakili kebenaran dan keadilan, “beyond human interest”.

Di sini artinya Jokowi lebih mulia dari Megawati, yang mendukungnya menjadi Walikota, Gubernur dan Presiden. Sebagai Wakil Allah, Jokowi tentu percaya akhirat dan surga. Karena konsepsi agama, khususnya Samawi (Islam, dan juga Kristen serta Jahudi) percaya bahwa hidup setelah di dunia ini pasti ada. Sebaliknya, Megawati dalam pidato resminya di HUT PDIP ke – 44, d hadapan petinggi partai, menyatakan bahwa hari akhir belum pasti ada. (Dalam pidatonya Mega mengatakan bahwa hari akhirat itu hanya klaim sepihak para ulama/self fulfilling propechy yang notabene belum pernah ke dunia akhirat itu). Sekali lagi, jika merujuk Megawati – dimana menurut katagori dia AMN juga adalah peramal akhirat- Jokowi tidak mungkin jadi Wali Allah.

Share Button

Related Posts