August 18, 2017

Ada Indikasi Australia Mau Rekrut Prajurit TNI Terbaik

Prajurit TNI


intelijen – Peringatan ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais. Menurut Hanafi, adanya indikasi pihak militer Australia ingin merekrut prajurit terbaik Indonesia disampaikan langsung Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang dikutip ABC, salah satu media berpengaruh di Australia.

Melihat gelagat seperti ini, Komisi I juga tidak akan tinggal diam. Pekan depan, Komisi yang membidangi masalah pertahanan ini akan mengundang Panglima TNI rapat bersama di Senayan untuk membahas masalah itu. Baginya, masalah tersebut sangat serius dalam bidang pertahanan nasional.

“Sekecil apa pun indikasi ancaman keamanan dan pertahanan nasional, harus direspons serius. Lebih baik terlihat lebay daripada kebobolan,” ujar putra Amien Rais ini dalam pesan singkatnya, kemarin.

Dugaan adanya perekrutan itu, sambung Hanafi, memang sudah dibantah Menteri Pertahanan Australia Marise Payne. Namun begitu, bukan berarti pemerintah Indonesia boleh lengah. Hanafi yakin, pernyataan Panglima TNI terkait operasi intelijen negara lain terhadap TNI memiliki dasar yang kuat. Makanya, dia meminta TNI tetap waspada.

Atas hal ini, Hanafi setuju den­gan langkah Panglima TNI yang membekukan sementara kerja sama militer dengan Australia. Baginya, langkah Panglima itu sesuai amanat UUNomor 34/2004 tentang TNI.

“Mengenai kekhawatiran Panglima soal adanya prajurit TNI direkrut militer Australia, sangat bisa dipahami. Sebab, kejadian serupa pernah terjadi di negara lain. Dua tahun lalu terkuak ada dua WNI permanent resident yang sudah bergabung dengan militer Singapura dan ikut latihan perang dengan kita,” ungkap Hanafi.

Anggota Komisi I DPR Sukamta ikut bersuara. Kata dia, atas masalah ini, Komisi I DPR akan memanggil Panglima TNI pada Selasa,10 Januari nanti. Dalam pertemuan itu, Komisi I DPR akan meminta penjelasan terkait masalah-masalah penting, utamanya soal penghentian sementara kerja sama militer dengan Australia.

“Di masa reses ini, kami te­lah melakukan perbincangan informal membahas sejumlah agenda. Salah satu agenda yang perlu diprioritaskan di awal masa sidang adalah memanggil Panglima TNI untuk meminta keterangan agar persoalan ini jelas,” ujar Sukamta.

Menurut dia, letak geografis Indonesia dan Australia sangat dekat, sehingga hubungan bilateral kedua negara harus di­jaga. Namun begitu, bukan berarti pihak Indonesia boleh diam saja saat ada oknum militer Australia yang menghina Pancasila dan ada indikasi perekrutan prajurit terbaik Indonesia.

Karena itu, ia berharap langkah yang diambil Panglima TNI mendapat dukungan dari seluruh rakyat. “Fenomena semacam ini (perekrutan prajurit) bisa jadi jamak tapi laten, karena semua bekerja dalam ranah intelijen,” ucapnya.

Share Button

Related Posts