October 24, 2018

21 Mei 1998, Saat Soeharto Berhenti Sebagai Presiden

Soeharto


intelijen – Tanggal 21 Mei, dua puluh tahun lalu, sejarah politik Indonesia memasuki babak baru. Hari itu, Kamis, 21 Mei 1998, pemimpin orde baru, Soeharto berhenti sebagai presiden.

Singgasana kekuasaan yang dipertahankan selama 32 tahun, hari itu harus dilepaskan. Gerakan reformasi yang menggema di seantero negeri, tak memungkinkan Soeharto untuk mempertahankan, apalagi melanjutkan kekuasaan.

Kaki-kaki politik Soeharto di DPR dan MPR pun, saat itu tak lagi mendukungnya. Sejumlah menteri yang sebelumnya membantu di kabinet juga ramai-ramai meninggalkannya. Mendadak, Soeharto seperti berdiri dalam kesunyian.

Saat bersamaan, arus reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa terus mengalir bak air bah. Deras, dan tak tertahankan.

Dalam situasi seperti itu, adakah pilihan lain bagi Soeharto selaian mundur dari kekuasaan? Pada akhirnya, Sang Jenderal Besar itu memang memilih mundur, tepatnya berhenti sebagai presiden.

Hanya saja, sebelum sampai pada pilihan itu, Soeharto berencana melakukan pilihan lain. Yakni, membentuk Komite Reformasi dan merombak susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun, kedua pilihan itu gagal dilakukan.

“Kenyataan hingga hari ini (21 Mei 1998) menunjukkan Komite Reformasi tidak dapat terwujud. Saya menilai, dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi,” ujar Soeharto seperti dikutip dari wikipedia.

Gagalnya pembentukan Komite Refomasi dan perombakan kabinet menyulitkan Soeharto menjalankan tugas sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

“Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998,” tutur Soeharto di Credentials Room, Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (21/5/1998).

Pidato bersejarah itu menandai berakhirnya hegemoni kekuasaan orde baru. Hari itu, orde baru tutup buku.

Share Button

Related Posts