May 26, 2018

2012, Konflik Timur Tengah Meluas (3)



Penguasa otoriter Timur Tengah telah berjatuhan, namun gejolak konflik dalam negeri masih terjadi. Tetapi itu tidak berhenti begitu saja, masih akan ada penguasa yang akan jatuh di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Di balik itu, Amerika Serikat (AS) memanfaatkan situasi dengan menebar intelijennya di lapangan untuk membangun jaringan dan membantu kelompok pro liberalisme ala AS.

Konspirasi AS
Intelijen – AS selaku konsumen utama minyak Timur Tengah tentunya berkepentingan dengan kondisi Timur Tengah, sehingga mau tidak mau harus ikut campur di masalah demokratisasi di kawasan Timur Tengah untuk menjaga kepentingannya.

Setidaknya AS memiliki dua kepentingan besar di kawasan Timur Tengah, yaitu pasokan minyak dan mengamankan berdirinya Israel sebagai negara utuh. Dua hal tersebut tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Hal ini dapat dilihat dari rentang waktu AS yang mulai berkoar tentang penegakan demokrasi di Mesir, lalu merembet ke negara lainnya di kawasan Timur Tengah di tengah melambungnya harga minyak dunia.

Namun untuk mendukung dua rencana besar itu, tentunya ada syarat yang wajib dipenuhi, yakni adanya keseimbangan kekuasaan baru di Timur Tengah. Sebab kondisi Timur Tengah  sebelum konflik terjadi tidak membuat AS bebas menancapkan pengaruhnya, khususnya adanya perlawanan dari Iran.

Menurut sumber INTELIJEN, keterlibatan AS di konflik Timur Tengah dilakukan dengan cara menyusupkan agen intelijennya dibeberapa organisasi pergerakan, termasuk di kelompok Islam garis keras.

Informasi ini diperoleh dari kejadian penyerangan personel kedutaan besar Rusia oleh petugas keamanan Qatar, sepulangnya dari pulang dari Suriah, yang konon didalangi CIA dan MI6 yang mengincar tas diplomat Rusia yang berisikan anggota Al-Qaeda didikan CIA.

Kabarnya, anggota Al-Qaeda didikan AS tersebut, adalah agen yang disusupkan CIA ke Libya untuk menggulingkan Khadafi dan menimbulkan kekacauan di Suriah untuk mengobarkan perlawanan terhadap Assad.

Tidak lama dari kejadian penyerangan terhadap diplomat Rusia oleh personel keamanan Qatar, pecah konflik Libya dan kekacauan di Suriah.

Di Libya, saat Qatar sedang diskenariokan sebagai pusat negara-negara Arab, Inggris dan Perancis yang merupakan anggota NATO diutus untuk menangani peperangan (setidaknya perang di media) oleh Washington.

Sedangkan di Suriah, AS menyerahkan kampanye demokratisasi kepada Perancis, Jerman dan Turki, sambil menskenariokan agar Qatar, Arab Saudi dan Yordania menjadi pemain sentral di masa depan di kawasan Timur Tengah.

Untuk melancarkan rencananya, AS juga menggerakan Angkatan Darat Suriah ke perbatasan Suriah-Turki. Sementara itu, disaat bersamaan, NATO menerobos wilayah udara Suriah dari Pangkalan Udara Incirlik dekat provinsi Adana, dengan tujuan menempatkan peralatan mata-mata.

Disebarnya alat mata-mata dan agen ini bertujuan untuk mengawasi Lebanon dan Iran. Di Lebanon sendiri banyak terdapat mata-mata Israel dan AS, yang menerima perintah langsung dari Kedutaan Besar AS di Beirut.

Contoh lain keterlibatan AS dalam menyeting konflik Timur Tengah adalah konflik Mesir. Di negara yang terkenal dengan Piramida Giza-nya, AS berperan besar di belakang layar agar militer Mesir tidak menembaki demonstran yang turun ke jalanan. Hal itu dimungkinkan karena Paman Sam memang dikenal dekat dengan militer Mesir.

Tidak hanya masalah minyak dan Israel, kepentingan AS di kawasan Timur Tengah adalah untuk menjual persenjataan dan pelatihan militer. Semua kepentingan itu dibungkus dengan kedok meningkatkan hubungan kerjasama dan membangun demokrasi.

Akan tetapi, tujuan utama dari kerjasama militer dan penjualan senjata itu adalah untuk mendukung rezim berkuasa yang didukung AS.

Adanya konflik yang timbul akibat semangat demokrasi, kelompok-kelompok yang ada di negara-negara Timur Tengah yang berhasil menumbangkan rezim otoriternya tentu akan merebutkan kekuasaan, yakni kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin dan kelompok liberalis yang mendapat dukungan dari AS.

Hal ini memaksa kelompok Islam garis keras yang menentang AS, untuk mengakui dan menerima kehadiran AS di negaranya. Karena jika memaksakan kehendaknya, maka yang terjadi adalah konflik berkelanjutan yang berakibat pada perpecahan negara.

Jika terjadi konflik berkepanjangan dan perpecahan di negara-negara kawasan Timur Tengah, maka AS sendiri justru akan dirugikan. Sebab kunci keberhasilan dan keamanan investasi asing di suatu negara adalah kestabilan politik dan keamanan dalam negeri.INTELIJEN

Share Button