August 17, 2018

2012, Konflik Timur Tengah Meluas (2)



Penguasa otoriter Timur Tengah telah berjatuhan, namungejolak konflik dalam negeri masih terjadi. Tetapi itu tidak berhenti begitu saja, masih akan ada penguasa yang akan jatuh di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Di balik itu, Amerika Serikat (AS) memanfaatkan situasi dengan menebar intelijennya di lapangan untuk membangun jaringan dan membantu kelompok pro liberalisme ala AS.

Konflik Meluas
Intelijen – Terkungkung oleh tirani kekuasaan sekian lama tentunya menimbulkan efek negatif bagi rakyat sebuah negara. Apalagi di negara-negara Timur Tengah yang belakangan bergejolak menuntut demokrasi.

Seperti banyak diketahui, kebanyakan negara Timur Tengah menjalankan pemerintahan yang bersifat tirani turun temurun, walau sistem yang dianut adalah demokrasi. Namun faktanya, demokrasi di negara-negara itu hanya bersifat semu.

Perebutan kekuasaan dan ketidakpuasan terhadap lambatnya proses demokratisasi di kawasan Timur Tengah pasca konflik, membuat politik dalam negeri kawasan Timur Tengah justru kembali bergejolak.

Menurut Smith, negara Arab mungkin terbagi menurut idelogi, etnis, dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang tak dapat dihapus, dan itu juga yang didengungkan oleh demokrasi, yaitu pluralisme.

Jadi wajar kalau ada perpecahan politik di dalam negeri. Yang paling penting, ada satu kesepahaman untuk membentuk pemerintahan yang demokratis demi mewujudkan kemakmuran rakyat itu sendiri yang selama ini menjadi tuntutan mereka.

Yang mengejutkan, jauh sebelum konflik Timur Tengah terjadi, majalah Times ternyata pernah melakukan survei rahasia terhadap masyarakat Arab Saudi pada 1994. Hasilnya cukup mencengangkan, hampir 70 persen masyarakat Arab Saudi menginginkan negara demokrasi.

Dengan adanya survei rahasia tersebut, jelas sudah bahwa sebenarnya masyarakat Arab memang menginginkan demokrasi, sehingga banyak rezim yang mulai berjatuhan.

Namun penggulingan rezim tersebut, dilakukan dengan kesadaran untuk menjaga integritas negara dan berusaha untuk mengalahdemi terciptanya persatuan dan komitmen bersama, yakni berdirinya negara baru yang demokratis dan mengakomodir kekuatan Islam.

Apa yang dikatakan Smith memang benar adanya. Beberapa perpecahan di negara Arab memang dihasilkan dari politik adu domba dimasa penjajahan. Di mana penjajah kolonial membagi bangsa Arab menjadi beberapa sub kultur seperti Sunni dan Syi’ah, untuk mendominasi kekuasaan.

Dengan latar belakang sejarah yang penuh dengan dominasi kekuasaan pada satu pihak, konflik Timur Tengah yang berlandaskan demokratisasi tentu akan terus meluas. Dimana protes akan terpusat pada masalah hak mendapatkan pekerjaan, jumlah pengangguran dan  korupsi (seperti di Mesir).

Sedangkan dibeberapa negara Arab lainnya, titik permasalahan demokrasi akan berpusat kepada sejarah, seperti Bahrain, dimana Syi’ah sebagai kalangan mayoritas justru diperintah oleh kalangan Suni dan keluarga kerajaan selama bertahun-tahun.

Tetapi orang-orang Syi’ah tersebut bergerak tidak mengatasnamakan agama. Kelompok Syi’ah hanya menuntut adanya reformasi yang signifikan di Bahrain, yakni demokrasi dan keadilan atas pemerintahan Sunni-Monarki.

Berbeda dengan Aljazair dan Maroko yang sangat tanggap. Pemerintah di dua negara ini langsung melakukan reformasi yang dibutuhkan sebelum demokrasi itu dimulai. Sehingga api revolusi dapat dipadamkan.

Tetapi gejolak konflik di kawasan Timur Tengah tidak akan berhenti sampai disitu, menurut Smith masih akan ada beberapa rezim lagi yang akan jatuh di 2012 ini.

Beberapa negara yang akan mengalami konflik itu adalah Suriah, dimana rezim Basyir Al Asad kini tinggal menunggu waktu. Kemudian Ali Abdullah Saleh di Yaman, yang sudah menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya, dengan perjanjian kepada negara-negara Arab di Teluk Persia.

Lalu bagaimana dengan Arab Saudi? Berbeda halnya dengan negara sekuler satu ini. Walau hasil survei rahasia Times menunjukan rakyat Arab Saudi menginginkan pemerintahan yang lebih demokratis, namun dengan adanya dukungan AS kepada Pemerintah Arab Saudi, kemungkinan terjadinya konflik penjatuhan rezim sangat kecil.

Tidak hanya dikawasan Timur Tengah, genta demokrasi juga menjalar ke kawasan Afrika Utara, khususnya di kawasan Sub-Sahara Afrika beberapa bulan belakangan.

Dari laporan media yang ada, banyak protes dari rakyat dan penangkapan yang dilakukan aparat negara dibeberapanegara Sub-Sahara Afrika, yakni di Gabon, Sudan, Etiopia, Kamerun, Afrika Selatan, Madagaskar, Mozambik dan Senegal. (Bersambung)

INTELIJEN

Share Button