October 21, 2018

2012, Konflik Timur Tengah Meluas (1)



Penguasa otoriter Timur Tengah telah berjatuhan, namun gejolak konflik dalam negeri masih terjadi. Tetapi itu tidak berhenti begitu saja, masih akan ada penguasa yang akan jatuh di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Di balik itu, Amerika Serikat (AS) memanfaatkan situasi dengan menebar intelijennya di lapangan untuk membangun jaringan dan membantu kelompok pro liberalisme ala AS.

IIntelijen – Demokrasi menjadi kata paling penting di kawasan Timur Tengah saat ini, khususnya di negara-negara yang pemerintahan otoriter, dimana kekuasaan terlalu lama ada di tangan satu penguasa, seperti Mesir, Libya, Suriah dan lainnya.

Alhasil, genta demokrasi yang diusung tersebut menjadikan negara seperti Mesir, Libya dan Suriah menjadi medan perang sipil, antara pemerintah dan rakyatnya.

Irak bahkan lebih parah lagi, Saddam diturunkan dari tampuk kekuasaan dengan cara paksa, bukan oleh rakyatnya, melainkan oleh AS dan sekutunya dalam sebuah invasi yang berkedok mencari senjata pemusnah massal yang dibuat rezim Saddam dan menegakan demokrasi di Irak.

Namun pasca pergolakan yang mengatasnamakan demokrasi, toh kawasan Timur Tengah tidak juga tenang. Negara-negara yang yang mengalami konflik justru mengalami konflik baru. Bukan dengan penguasa bertangan besi, melainkan dengan sesama rakyat yang memperebutkan kursi kekuasaan yang berhasil dijatuhkan.

Mesir misalnya, pasca Hosni Mubarak mundur, negeri yang terkenal dengan piramidanya ini tetap saja mengalami konflik kekuasaan. Karena pihak militer yang menjadi penguasa sementara belum juga menyerahkan kekuasaan kepada sipil.

Tidak hanya itu, Mesir justru kerap terjebak dalam pelbagai macam konflik bernuansa agama. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya perusakan bahkan pembakaran rumah ibadah seperti gereja.

Libya lebih parah lagi, kematian Khadafi tak berarti juga kemenangan bagi masyarakat Libya. Setidaknya karena masyarakat Libya belum bisa memastikan masa depan yang akan dialami pasca-tewasnya Khadafi.

Ada sejumlah tantangan berat yang harus dihadapi oleh masyarakat Libya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dibanding era kekuasaan Khadafi.

Kepada INTELIJEN, pengamat Timur Tengah, Smith Al-Hadar mengatakan, Revolusi Arab adalah sesuatu yang sangat wajar. Karena tidak mungkin pasca kejatuhan suatu rezim, akan serta merta muncul persatuan pemikiran di masyarakat Arab.

Menurutnya bagaimanapun, ada imbas dari berbagai ideologi  sekuler dari barat yang memasuki Timut Tengah sejak abad 19. Dengan dengan jatuh rezim, ada keinginan dari kelompok-kelompok tersebut untuk merebut kekuasaan.

Masih menurut Smith, siapapun yang berkuasa di Timur Tengah, selain harus mengakomodir aspirasi kelompok dari dalam negeri, juga harus mengakomodir kepentingan Barat di kawasan ini jika ingin negaranya tetap bertahan di masa depan. (Bersambung)

INTELIJEN

Share Button