|
Pemimpin Pemberontak, Kolonel Yaura Sasa (Foto: ABC News)
INTELIJEN.co.id - Para pensiunan kolonel yang mengklaim telah merebut kendali militer Papua New Guinea (PNG) mengancam untuk menggunakan "tindakan yang diperlukan" guna menyelesaikan kebuntuan politik di negara itu, ABC News melaporkan, Kamis 26 januari 2012.
Pemimpin pemberontak, Kolonel Yaura Sasa, mengatakan kepada wartawan di Port Moresby bahwa tentara di bawah kendalinya telah melepaskan beberapa tembakan pagi ini saat mereka menyerbu markas Taurama dan mengambil sandera panglima pasukan pertahanan, Fransiskus Agwi, dan menempatkan di bawah tahanan rumah.
Mantan atase pertahanan untuk Indonesia itu mengatakan bahwa tindakan tidak sebesar pemberontakan atau pengambilalihan kekuasaan oleh militer. Ia juga mengatakan telah ditunjuk sebagai panglima oleh mantan Perdana Menteri Sir Michael Somare.
Dia meminta Sir Michael dan Perdana Menteri Peter O'Neill untuk kembali ke parlemen guna menyelesaikan apa yang disebut kebuntuan konstitusional negara itu dalam waktu tujuh hari.
"Saya sekali lagi sekarang menyerukan kedua belah pihak dan kepala negara untuk menghormati konstitusi dan sesuai dengan perintah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung segera. Jika panggilan ini tidak diperhatikan, saya mungkin terpaksa untuk mengambil tindakan yang diperlukan," katanya
Kolonel Sasa menegaskan bahwa tindakannya itu bukan pengambilalihan militer.
"Tugas saya adalah memulihkan integritas dan menghormati konstitusi dan peradilan," katanya.
Kolonel Sasa selanjutnya meminta Kepala Negara, Gubernur Jenderal Sir Michael Ogio, menjalankan jabatan Sir Michael Omare sebagai perdana menteri.
"Saya sekarang menyerukan kepada kepala negara untuk segera menjalankan jabatan Sir Michael sebagai perdana menteri," katanya.
Konferensi pers mendapati keganjilan ketika Kolonel Sasa harus menjawab telepon di meja di depannya.
"Maafkan aku, aku tepat di tengah-tengah (tidak mendengar). Bisakah Anda menelepon dalam 10 menit lagi?" katanya.
Beberapa waktu kemudian, di tempat terpisah, Wakil Perdana Menteri PNG, Belden Namah, mengatakan kepada wartawan bahwa 15 dari 30 laki-laki atau lebih pendukung Kolonel Sasa telah ditangkap.
Namah, seorang mantan tentara (dan pernah mengancam memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia, baca: PNG Ancam Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Indonesia), mengatakan, bahwa Kolonel Sasa tidak memiliki dukungan dari militer yang lebih luas dan ia harus menyerahkan dirinya.
Dia mengatakan sejumlah tindakan Kolonel Sasa untuk pemberontakan, dapat membawa hukuman mati.
|