|
Peringatan 20 Tahun Hubungan Diplomatik Cina-Israel 2012 (Foto: Xinhua)
INTELIJEN.co.id - Amerika Serikat pantas khawatir, melihat agresifitas kebijakan strategis Cina di tingkat global. Setelah berhasil "mengimbangi" hegemoni AS di Asia Pasifik yang mendorong Washington memperkuat keberadaan militernya di Australia, kini Cina kembali menerobos Timur Tengah yang sedang memanas.
Tidak tanggung-tanggung, tiga pintu masuk kritis Timur Tengah digedor Cina melalui kebijakan yang konsisten dalam waktu hampir bersamaan dari sebuah proses pedekatan hubungan yang panjang. Bertepatan, ketika Barat, khususnya AS, semakin kehilangan pengaruhnya di wilayah kaya minyak ini.
Pertama, pada saat suhu politik di Teluk kembali memanas terkait isu program nuklir Iran dan tekanan sanksi minyak terhadap republik Islam, Cina mencoba menerobos masuk ke negara-negara monarki penting di jazirah Arab, dengan tidak frontal "menentang" Barat atau "mencaci" Iran.
Melalui rangkaian kunjungan bilateral ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, negara sosialis terbesar di Asia ini berjanji untuk mendukung terciptanya stabilitas politik dan sustainable pembangunan kawasan.
Cina berjanji untuk menjaga kawasan Teluk sebagai zona bebas nuklir, yang sasarannya tentu saja kepada isu nuklir Iran yang dirasakan oleh negara-negara Sunni di kawasan ini sebagai ancaman hegemonik.
Cina juga menegaskan untuk semakin meningkatkan hubungan kerjasama dengan ketiga negara dalam skema Sino-Arab Cooperation Forum yang terbentuk sejak 2004. Konteks kerjasama tentu saja yang bersifat pragmatis dan saling menguntungkan, yang dapat saling mempererat hubungan bilateral.
Kedua, pada saat Israel masih menjadi salah satu sumber krisis stabilitas di Timur Tengah dalam konfliknya dengan Palestina dan dunia Islam sampai sekarang ini, Cina juga memiliki jalur hubungan bilateral yang erat dengan Israel.
Tanggal 23 Januari 2012, kedua negara menegaskan jalur hubungan tersebut dalam acara peringatan 20 tahun terbentuknya hubungan diplomatik Cina-Israel.
Israel menyampaikan pesan penting dengan menyebut perlakuan yang adil Cina terhadap komunitas Yahudi pada masa lalu, dan perlindungan yang diberikan kepada mereka selama holocaust.
"Seperti orang-orang Cina, orang-orang Yahudi memiliki memori panjang. Kami selalu ingat teman-teman kita. Kita selalu ingat orang-orang yang mengulurkan tangan kepada kita di hari-hari tergelap kita dan kita berterima kasih kepada Cina untuk itu," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam acara peringatan 20 tahun hubungan diplomatik kedua negara, di Tel Aviv.
Netanjahu menambahkan bahwa persahabatan antara kedua belah pihak dapat lebih diperdalam dalam tahun-tahun mendatang terutama dengan melihat ekspansi dramatis Cina di tataran global, khususnya di kawasan Timur Tengah, yang akan bermakna dalam penciptaan stabilitas regional dan global.
Ketiga, pada saat masih terjadinya kebuntuan dalam negosiasi Palestina-Israel sat ini, Cina mengambil posisi yang konsisten untuk mendukung proses dialog di bawah resolusi PBB yang relevan, prinsip "Land for Peace", Prakarsa Perdamaian Arab, dan Peta Jalan Perdamaian Timur Tengah, dengan tujuan akhirnya mendirikan negara Palestina merdeka, dan kedua negara, Palestina dan Israel, hidup berdampingan secara damai.
"Cina menghargai upaya yang dilakukan baru-baru ini oleh Yordania dan Kuartet Timur Tengah untuk memfasilitasi kedua pihak memiliki kontak langsung," Duta Besar Cina untuk PBB, Li Baodong, kata Li, seraya menambahkan dukungan negaranya bagi peran yang lebih besar dari PBB dalam menyelesaikan masalah Timur Tengah.
Langkah-langkah kebijakan Cina di kawasan Timur Tengah tersebut, menunjukkan tingkat moderasi yang tinggi untuk tidak "kronfrontatif" dengan Barat, tetap menjaga hubungan dengan dua negara berseteru, Israel dan Iran, konsisten mendukung Palestina merdeka, dan mengembangkan kerjasama pragmatis dengan negara-negara monarki penting di Teluk.
Apa yang dilakukan Cina, bukanlah kebijakan yang tiba-tiba, tetapi sudah berjalan cukup panjang dan konsisten. Dan saat ini, memperoleh momentum yang tepat untuk semakin meningkatkan pengaruh politik dan keuntungan ekonomi di kawasan ini, sekaligus berpotensi menggeser pengaruh Barat dan AS, yang melakukan pendekatan hubungan melalui jalan perubahan rezim otokrasi, seperti yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya.
|