Selasa, 22/05/2012 14:23 WIB

Intelijen

Home Warta Mantan Direktur Intelijen Nasional AS: Perlu Tawarkan Cara Alternatif kepada Kelompok Radikal
Mantan Direktur Intelijen Nasional AS: Perlu Tawarkan Cara Alternatif kepada Kelompok Radikal
Jumat, 20 Januari 2012 18:19

Foto: WikimediaFoto: Wikimedia

INTELIJEN.co.id - Kelompok radikal yang  mengungkapkan kemarahan orang-orang tertindas, tidak hanya bisa dikritik. Golongan moderat perlu menawarkan cara alternatif yang membolehkan golongan tertindas melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan mereka.

Mantan Direktur Intelijen Nasional (DNI) Amerika Serikat, Laksamana (Purn) Dennis C. Blair, mengatakan hal itu, Kamis, 19 Januari 2012, saat berbicara dalam  International Conference on the Global Movement of Moderates (ICGMM) di Kuala Lumpur, Malaysia, seperti dilaporkan Bernama.

"Golongan moderat tidak hanya bisa menasehati mereka untuk bersikap wajar dan menahan diri. Golongan moderat perlu menawarkan cara alternatif yang akan membolehkan golongan yang tertindas melakukan sesuatu yang dapat mengubah keadaan mereka," katanya.

Blair percaya bahwa golongan moderat dapat menawarkan cara positif kepada kelompok radikal  untuk memperbaiki kehidupan mereka, selaras dengan prinsip-prinsip moderasi.

Blair, mengatakan, prinsip-prinsip termasuk menghormati martabat dan kebebasan manusia, realisme, dan pegangan agama yang layak diperjuangkan. Dan ia menambahkan bahwa itu selaras daya tarik aksi kelompok radikal demi komitmen menyeluruh bagi keberanian, pengorbanan dan upaya berkelanjutan.

"Ini amat penting untuk kelompok radikal dari segi  moral dan peluangnya untuk berhasil membawa kehidupan lebih baik bagi golongan tertindas," katanya.

Blair mengatakan cara moderat positif ini tergali dari peristiwa "Arab Spring", kemenangan terbaru dalam serangkaian kemenangan gerakan non-kekerasan yang telah dimulai pada zaman Mahatma Gandhi di India, Martin Luther King di Amerika Syarikat, dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Dia mengatakan, sebuah studi menunjukkan, bahwa 70 persen dari 67 transisi kekuasaan di negara-negara otokratis yang telah berhasil, rata-rata dengan prinsip non-kekerasan.

"Dari 47 negara di mana non-kekerasan berhasil, 66 persen memperoleh kebebasan beberapa tahun kemudian. Sedangkan 20 negara yang melibatkan kekerasan besar-besaran, hanya 20 persen yang bebas. Tanpa kekerasan jelas berhasil dan membawa kemenangan berkelanjutan yang lebih baik," katanya.

Dengan demikian, kata Blair, kaum moderat harus dan bisa menawarkan bantuan praktis kepada mereka yang ingin memperbaiki kondisi mereka, melalui cara non-kekerasan.

"Saya percaya kita golongan moderat memiliki agenda untuk aksi yang lebih berani, realistis, menghormati pihak lain, dan lebih baik daripada yang ditawarkan kelompok radikal," katanya.


 
Pemerintah AS Sedang Upayakan Referendum bagi Papua
INTELIJEN.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalagewa harus menyataka
Grup AS dalam Pemerintahan SBY
INTELIJEN.co.id - Wikileaks merilis bocoran terbaru kawat-kawat berita dari pos Kedutaan Besar Amer
Jerusalem Center, Minta Cina dan Rusia Cegah Rencana Serangan Israel ke Iran
INTELIJEN.co.id - Dalam beberapa minggu terakhir ini, berbagai artikel dan analisis di media-media
Konflik Freeport, di Tengah Usaha Renegosiasi Kontrak Tambang
INTELIJEN.co.id - Asap hitam membubung di langit Timika, papua. Penerbangan dari dan menuju Bandara
Poin Pidato Kenegaraan Presiden SBY, Jelang 17 Agustus 2011
INTELIJEN.co.id - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini tadi, Selasa 16 Agustus 2011, menyampa
Banner
Banner