|
Quds Forces Iran (Foto: Todays Zaman/AP)
INTELIJEN.co.id - Unit intelijen Turki telah memperingatkan bahwa Quds Force, sebuah unit khusus Garda Revolusi Iran, berencana mengirim satu kelompok ke Turki untuk melakukan serangkaian demonstrasi yang mungkin termasuk serangan bom di Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Turki, harian lokal Turki, Zaman, melaporkan Selasa, 17 Januari 2012.
Pihak berwenang Turki telah memperingatkan kepolisian di seluruh provinsi untuk waspada terhadap adanya ancaman tersebut. Intelijen menyampaikan kemungkinan serangan itu dalam sebuah surat rahasia kepada departemen informasi di Direktorat Jenderal Keamanan Turki.
Keterangan tertulis menunjukkan bahwa sebuah tim Quds Force yang terkait dengan Garda Revolusi Iran akan dikirim ke Turki dan tim itu mungkin untuk merencanakan serangan bom di kedutaan atau konsulat jenderal AS di negara ini.
Quds Forces dikenal karena perannya dalam upaya "mengekspor" revolusi Iran ke negara lain melalui operasi-operasi rahasia dan bertindak sebagai unit Pasukan Garda Revolusi Iran. Namun, fakta tentang peran atau keterlibatan Quds Force sangat dijaga dan sulit ditemukan.
Rincian keterangan lebih lanjut menyatakan bahwa tim bermaksud untuk tinggal di hotel bintang lima di kota di mana rencana akan dilakukan, dan meminta warga harus hati-hati harus ketika berhadapan dengan orang non-Turki yang tinggal di hotel tersebut.
Keterangan juga mencatat bahwa kelompok-kelompok yang terkait dengan Hizbullah yang berbasis di Libanon juga dapat mengambil bagian dalam rencana demonstrasi atau serangan.
Data intelijen mengenai rencana tersebut, dinilai oleh pasukan keamanan Turki sebagai upaya Iran untuk membangkitkan aksi kelompok-kelompok politik ilegal di Turki, menyusul keputusan Turki untuk menjadi tuan rumah pengoperasian sistem anti-rudal NATO. (baca: Sistem Anti Rudal NATO Siap Beroperasi di Turki)
Selain itu, juga terkait perkembangan terakhir di Suriah yang memperlihatkan pembentukan kamp pelatihan untuk Partai Pekerja Kurdistan (PKK), sebuah langkah yang ditafsirkan sebagai respon Turki yang mengkritik rezim Suriah atas penumpasan brutal terhadap protes-protes anti-rezim.
Desember tahun lalu, sejumlah pejabat Iran pernah menyatakan ancamannya terhadap Turki, setelah negara itu menyetujui pembentukan sistem pertahanan NATO di wilayahnya. Seorang anggota parlemen Iran, mengatakan, bahwa Turki akan menyesal karena berpihak dengan Amerika Serikat. (baca: Fasilitas Nuklir Isfahan, Ancaman Serangan Ke Turki Timur dan Kontroversi Baru Iran) Sebagian kalangan di Iran telah menafsirkan peran Turki di masyarakat internasional sebagai ancaman terhadap kepentingannya, dan yakin AS dan Israel sedang berusaha menghancurkan Iran.
Namun, pejabat penting Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Ali Akbar Salehi, telah meyakinkan Turki bahwa ancaman tersebut hanya cerminan individu anggota parlemen Iran dan tidak mencerminkan kebijakan resmi negara, dan Turki seharusnya hanya mempertimbangkan informasi dari pejabat senior pemerintah Iran.
Salehi juga sering mengungkapkan keprihatinannya atas "provokasi" yang mungkin mencoba untuk melihat persaudaraan Iran dan Turki, yang telah berlangsung lama, menjadi berantakan. Dia percaya bahwa kedua negara harus tetap dalam hubungan yang dekat dan bekerja sama mengenai perkembangan regional.
Pejabat senior Iran yang lain, Juru Bicara parlemen, Ali Larijani, beberapa waktu lalu juga telah berkunjung ke Turki, yang juga dimungkinkan untuk meningkatkan saling pemahaman kedua negara, termasuk soal program nuklir Iran. (Baca: Iran Siap Pembicaraan Serius Program Nuklirnya, Asal Barat Tidak Curang)
Meskipun selama ini Turki dan Iran terlibat dalam kerjasama yang erat, tetapi dalam beberapa hal masih muncul saling kecurigaan. Hal ini terutama menyangkut perbedaan dukungan politik Sunni-Syiah.
|