|

INTELIJEN.co.id - Cina melaporkan bahwa diplomasi militernya meningkat pesat di 2011, seperti apa yang disampaikan Pemerintah Cina, melalui kantor berita XinHua.
Dalam laporan tersebut, Cina setidaknya telah mengirimkan perwira tinggi dan pejabat senior kementerian pertahanannya untuk mengunjungi 14 negara tetangga, seperti Vietnam, Myanmar, Nepal, Singapura dan Filipina selama 2011.
Selama 2011, perwakilan Cina menghadiri berbagai pertemuan skala internasional, untuk berbagi pandangan dibidang pertahanan dan isu keamanan, seperti yag dilakukan negeri Panda ini di acara pertemuan Shanghai Cooperation, Shangri-La Dialogue dan Association of South East Asian Nations Defense Minister Plus Meeting.
Militer Cina juga mencapai banyak kemajuan dalam hal bekerjasama dengan negara tetangga, dengan mengadakan pelatihan dan penelitian bersama, serta memberukan bantuan kemanusiaan bencana alam, khususnya di Pakistan dan Thailand.
Untuk hubungan diplomatik Cina – Amerika Serikat (AS), Pemerintah Cina mendukung guna tercapainya hubungan baik dengan negara adi daya tersebut. Hal itu dibuktikan dengan menerima kunjungan kerja Defense Secretary AS, Robert Gates ke Cina beberapa waktu lalu.
Namun, hubungan diplomatik dua negara ini sepertinya akan terus dibayangi oleh masalah status Taiwan, dan penjualan senjata ke Taiwan oleh AS belakangan ini.
Pemerintah Cina yang diwakili Qian Lihua menyatakan, Cina dan PLA telah mendapatkan lebih banyak perhatian komunitas internasional, dan mulai terbiasa untuk menanggapi kesalahpahaman dunia internasional terhadap negara berpenduduk terbanyak di dunia ini.
Sejak April 2011, Kementerian Pertahanan Cina mengadakan pertemuan bulanan dengan media massa, untuk menjawab pertanyaan sensitiv seputar latihan militer, strategi pertahanan, perlengkapan senjata dan hubungan internasional.
Bahkan di Maret 2011, Kementerian Pertahanan Cina merilis Buku Putih Pertahanan Cina yang terbaru, dengan menerbitkannya di situs resmi kementerian.
Di 2011 juga, Cina berpartisipasi setidaknya delapan latihan bersama dengan militer negara lain, termasuk pelatihan anti teror dengan Pakistan, pelatihan pasukan khusus dengan Indonesia, dan pelatihan pasukan penerjun dengan Belarusia.
Latihan gabungan ini dianggap sebagai elemen penting dalam meningkatkan kemampuan tempur personel PLA. Dan Pemerintah Cina sudah menjadikan latihan gabungan dengan negara lain, sebagai sebuah kegiatan reguler PLA.
|