|
Pengamat Intelijen, AC Manullang (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id – Penembakan oleh kelompok tak dikenal di area PT Freeport yang menewaskan dua orang pekerja kontraktor perusahaan tambang emas asal Amerika Serikat itu pada Senin, 9 Januari 2012, menjadi bukti eksistensi kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Kelompok separatis itu, tetap melakukan gerilya dan mendapat pasokan dari Australia.
“Selain senjata rakitan, curian milik TNI, saat ini OPM mendapat pasokan senjata dari Australia,” kata pengamat intelijen AC Manullang seperti diwartakan www.itoday.co.id.
Menurut AC Manullang, gerakan OPM saat ini, selain menggunakan cara gerilya dan bersenjata, juga mengintensifkan jalur diplomatik internasional dengan memanfaatkan para politisi di luar negeri yang memberikan dukungan kemerdekaan bagi Papua.
“Pemerintah Indonesia juga harus mewaspadai jalur diplomasi yang dijalankan OPM. Saat ini, OPM mencoba mencari dukungan Australia, AS, Uni Eropa,” paparnya.
Ia juga mengatakan, keberadaan pangkalan militer AS di Australia semakin memperjelas keinginan negara Paman Sam dan Australia melepaskan Papua dari Indonesia.
“Walaupun dalam berbagai forum internasional, kedua negara ini mendukung Papua dalam wilayah Indonesia, tetapi secara diam-diam memberikan dukungan ke OPM. Kasusnya sama seperti lepasnya Timor-Timur dari NKRI,” jelas Manullang.
Selain itu, kata Manullang, gerakan OPM juga mendapat dukungan dari gerakan misionaris internasional.
“Gereja biasanya bermain di dua kaki, bekerja kemanusiaan, tetapi juga politis yaitu mendukung OPM,” pungkasnya.
Insiden penembakan kembali terjadi di area PT Freeport Indonesia. Dua orang kontraktor perusahaan tambang emas dan tembaga asal Amerika Serikat ini ditemukan tewas dekat area penambangan Grassberg.
Juru bicara PT Freeport, Ramdani Sirait, pada Senin, 9 Januari 2012, seperti dilansir beberapa media, mengatakan, kedua kontraktor ditemukan tewas dalam mobil milik Freeport setelah sebelumnya mobil itu ditembaki.
Insiden penembakan oleh orang tak dikenal ini, merupakan yang pertama terjadi sejak berakhirnya aksi mogok kerja karyawan selama tiga bulan, sebagai buntut konflik antara pihak serikat pekerja dan manajemen PT Freeport (baca: Dua Pekerja PT Freeport Tewas, Awali Insiden Penembakan Kelompok Tak Dikenal Pasca Aksi Mogok)
|