|
Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O'Neill (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Perdana Menteri Papua Nugini (PNG), Peter O'Neill, telah membuat perdamaian dengan wakilnya, Belden Namah, menyusul seruan Namah agar dia mengundurkan diri terkait insiden di wilayah udara Indonesia.
Menurut Namah, dua pesawat militer Indonesia hampir bertabrakan dengan pesawat jet yang membawa dirinya dan para pejabat senior yang kembali dari Malaysia.
Ada tuduhan, pihak militer Indonesia sedang memata-matai Pemerintah PNG. Belden Namah, mengatakan bahwa hal itu adalah tindakan agresi dan intimidasi, dan mengancam akan mengusir Duta Besar Indonesia di Port Moresbi serta menarik Duta Besar PNG di Jakarta.
Perdana O'Neill telah menolak mendukung ancaman Namah untuk mengusir Duta Besar Indonesia jika Indonesia tidak menawarkan penjelasan dan permintaan maaf atas insiden tersebut.
Perdana menteri juga menolak seruan yang dibuat oleh Namah dalam komentar balik di radio lokal yang memintanya mengundurkan diri (baca: Perdana Menteri PNG Tolak Seruan Mundur dari Wakilnya).
Baik O'Neill maupun Namah sekarang mengatakan pemerintah mereka masih utuh dan akan memimpin PNG menuju pemilu berikutnya di bulan April 2012, Radio Australia News melaporkan, Selasa, 10 Januari 2012.
Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam pernyataan persnya, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, pada Jum'at malam, 6 Januari 2012, telah memanggil Duta Besar PNG di Jakarta, Peter Ilau, dan menjelaskan bahwa langkah pencegatan yang dilakukan TNI terkait masalah teknis izin penerbangan.
Menurut Menteri, langkah oleh TNI Angkatan Udara untuk mencegat pesawat jet PNG sesuai dengan prosedur yang ada di Indonesia dan di negara-negara lain.
"Tindakan yang diambil oleh Komando Pertahanan Udara Nasional (KOHANUDNAS) adalah melakukan identifikasi elektronik dengan radar dan identifikasi visual dengan pencegatan berdasarkan prosedur standar," kata pernyataan itu.
Dikatakan bahwa tindakan itu diambil karena ada perbedaan data antara izin penerbangan KOHANUDNAS dengan identifikasi radar bandara dan identifikasi radar KOHANUDNAS.
"Meski demikian, pencegatan yang dilakukan oleh pesawat TNI Angkatan Udara itu sejalan dengan prosedur dan tidak pernah mengancam jet," katanya.
Perdana Menteri O'Neill mengaku puas atas penjelasan Indonesia itu. Dia juga menyatakan tidak bermaksud menutup Kedubes RI di Port Moresby maupun memanggil pulang staf diplomatiknya dari Jakarta.
|