|
Wakil Perdana Menteri PNG, Belden Nemeh (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Papua New Guinea (PNG) mengancam Indonesia atas insiden pencegatan pesawatnya di wilayah Indonesia November 2011 lalu.
Wakil Perdana Menteri PNG, Belden Namah, menurut laporan Radio Australia News, Jum'at, 6 Januari 2012, telah mengancam akan mengusir Duta Besar Indonesia di Port Moresby, Andreas Sitepu.
Dikatakan, bahwa dua pesawat militer Indonesia hampir bertabrakan dengan pesawat jet yang membawa Namah dan para pejabat senior senior yang kembali dari Malaysia.
Ada tuduhan pihak militer Indonesia sedang memata-matai Pemerintah PNG. Belden Namah, mengatakan bahwa hal itu adalah tindakan agresi dan intimidasi.
"Saya sangat marah dan menuntut penjelasan. Jika tidak ada penjelasan dalam waktu 48 jam, semua hubungan diplomatik antara Indonesia dan Papua Nugini akan tegang," kata Namah.
Namah menambahkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan Duta Besar Indonesia di Port Moresby.
"Saya sudah berbicara dengan duta besar, dan jika itu berarti kita harus mengambil tindakan duta besar untuk meninggalkan negara ini, dan menarik duta besar kami dari Jakarta, kita akan melakukannya," tegasnya.
Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam pernyataan persnya, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, pada Jum'at malam, 6 Januari 2012, telah memanggil Duta Besar PNG di Jakarta, Peter Ilau, dan menjelaskan bahwa langkah pencegatan yang dilakukan TNI terkait masalah teknis izin penerbangan.
Menurut Menteri, langkah oleh TNI Angkatan Udara untuk mencegat pesawat jet PNG sesuai dengan prosedur yang ada di Indonesia dan di negara-negara lain.
"Tindakan yang diambil oleh Komando Pertahanan Udara Nasional (KOHANUDNAS) adalah melakukan identifikasi elektronik dengan radar dan identifikasi visual dengan pencegatan berdasarkan prosedur standar," kata pernyataan itu.
Dikatakan bahwa tindakan itu diambil karena ada perbedaan data antara izin penerbangan KOHANUDNAS dengan identifikasi radar bandara dan identifikasi radar KOHANUDNAS.
"Meski demikian, pencegatan yang dilakukan oleh pesawat TNI Angkatan Udara itu sejalan dengan prosedur dan tidak pernah mengancam jet," katanya.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Duta Besar Ilau telah menghargai penjelasan Menteri Marty Natalegawa dan akan menyampaikan pesan ke pemerintahnya.
Juru Bicara Presiden, Teuku Faizasyah, pada Sabtu, 7 November 2012, juga telah menanggapi insiden dan ancaman pihak PNG.
"Kami memutuskan untuk menanggapi masalah ini segera setelah kami menerima informasi pada siang hari. Kami mengumpulkan informasi dan fakta dari semua instansi terkait, termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan dan TNI. Pemerintah berusaha untuk memeriksa," kata Faizasyah yang menolak mengonfirmasi apakah tanggapan ini terkait dengan ancaman pemerintah PNG yang meminta penjelasan dalam waktu 48 jam.
|