|
Pengamat Teroris, Mardigu (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Pemberantasan terorisme di Indonesia cenderung menjadi "proyek" untuk mencari keuntungan bagi pemerintah.
"Kalau ada teroris, pastinya ada anggarannya, contohnya memulangkan Umar Patek itu biayanya sampai miliaran rupiah dan itu dinikmati pejabat terkait," kata pengamat teroris Mardigu, Jumat 6 Januari 2012, seperti diwartakan www.itoday.co.id.
Menurut Mardigu, seharusnya pemerintah Indonesia tidak usah mengakui warganya yang berada di luar negeri terkena kasus terorisme.
"Pemerintah Indonesia harus mengikuti negara lain, kalau ada warganya terkena kasus teroris, tidak diakui," ungkapnya.
Mardigu mencontohkan Singapura maupun Saudi Arabia yang tidak pernah mengakui warganya yang berada di luar negeri terkena kasus teroris.
"Nasir Abbas itu sebenarnya warga Singapura, tetapi pemerintah di sana tidak mengaku. Ini lebih efektif dan menjaga Indonesia dari citra buruh di dunia internasional yang dianggap sarang teroris," ungkapnya.
Ia juga mengatakan, pemberantasan terorisme di Indonesia tidak berhasil karena buktinya masih banyak teroris yang berada di wilayah nusantara.
Isu terorisme di Indonesia berpotensi mengemuka kembali dengan adanya Lima anggota teroris internasional diduga telah memasuki Filipina, dan dua di antaranya disebutkan berkewarganegaraan Indonesia.
Seorang komandan militer Filipina, Letnan Jenderal Raymundo Ferrer, pada Selasa, 3 Desember 2012, mengatakan setidaknya lima warga asing yang berafiliasi dengan Al Qaeda telah bersembunyi Pulau Jolo, dan terkait dengan kelompok militan lokal Abu Sayyaf (baca: Dua Tersangka Teroris Indonesia Sembunyi di Mindanao, Filipina Perketat Keamanan).
Ferrer mengatakan salah satu militan adalah Zulkifli bin Hir, yang menjadi salah satu buronan penting Amerika Serikat. Washington telah menawarkan hadiah 5 juta dolar bagi yang bisa menangkap atau membunuhnya.
Zulfikli diburu Amerika Serikat karena menjadi otak penyerangan seorang insinyur Malaysia yang mendapat pelatihan Amerika Serikat. Peristiwa penyerangan terjadi di Filipina.
Disebutkan juga dua dari lima teroris adalah orang Indonesia, sementara lainnya warga Singapura dan Malaysia.
|