|
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Dalam pemberantasan terorisme, Indonesia menunggu perintah Amerika Serikat termasuk terkait dua Warga negara Indonesia yang terlibat jaringan teroris internasional, dan bersembunyi di Filipina.
"Nasib dua WNI di Filipina yang terkait jaringan teroris internasional itu, pemerintah Indonesia masih menunggu perintah dari AS," kata pengamat intelijen, Herman Y Ibrahim Jum'at, 6 Januari 2012, seperti diwartakan situs berita www.itoday.co.id
Menurut mantan Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi itu, pemerintah tidak akan memikirkan nasib warganya yang di luar negeri karena terlibat terorisme.
"Terlepas, teroris atau bukan, tugas negara harus memberikan perlindungan terhadap semua warganya, terkait jaringan teroris, biarlah diproses secara hukum," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, kasus Umar Patek yang dibawa pulang dari Pakistan tidak bisa dilepaskan peran AS.
"Umar Patek itu bukan kerjaan Kemenlu yang memberikan perlindungan terhadap warganya, tetapi ada kepentingan besar dengan diekstradisinya Umar Patek ke Indonesia," ujar Herman.
Ditambahkan, bahwa kepentingan AS, jika Umar Patek diadili di Indonesia akan bisa membongkar berbagai jaringan terorisme di kawasan Asia Tenggara.
"Pengadilan Umar Patek di Indonesia supaya memberikan keterangan jaringan teroris di kawasan Asia Tenggara maupun Indonesia, targetnya menjadikan Umar Patek sebagai pemberi informasi bagi aparat kepolisian," katanya.
Lanjutnya, nasib kedua WNI itu yang berada di Filipina itu bisa dihabisi, jika posisinya dalam jaringan teroris internasional hanya ikut-ikutan saja.
Lima anggota teroris internasional diduga telah memasuki Filipina. Dua di antaranya disebutkan berkewarganegaraan Indonesia.
Seorang komandan militer Filipina, Letnan Jenderal Raymundo Ferrer, pada Selasa, 3 Desember 2012, mengatakan setidaknya lima warga asing yang berafiliasi dengan Al Qaeda telah bersembunyi Pulau Jolo, dan terkait dengan kelompok militan lokal Abu Sayyaf (baca: Dua Tersangka Teroris Indonesia Sembunyi di Mindanao, Filipina Perketat Keamanan).
Ferrer mengatakan salah satu militan adalah Zulkifli bin Hir, yang menjadi salah satu buronan penting Amerika Serikat. Washington telah menawarkan hadiah 5 juta dolar bagi yang bisa menangkap atau membunuhnya.
Zulfikli diburu Amerika Serikat karena menjadi otak penyerangan seorang insinyur Malaysia yang mendapat pelatihan Amerika Serikat. Peristiwa penyerangan terjadi di Filipina.
Disebutkan juga dua dari lima teroris adalah orang Indonesia, sementara lainnya warga Singapura dan Malaysia.
|