|
Terorisme, ilustrasi (Foto: balitbang.kemhan.go.id)
INTELIJEN.co.id - Kapolri Timur Jenderal Pol Timur Pradopo telah memberikan signal di akhir tahun 2011 silam, terorisme akan menonjol di tahun 2012. Pemerintah sendiri disinyalir tidak akan membiarkan isu ini padam dengan berbagai pertimbangan.
"Saya menduga, pemerintah tidak akan membiarkan isu terorisme ini padam dengan berbagai pertimbangan," kata Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya, Senin, 2 Januari 2012, seperti diwartakan situs berita www.itoday.co.id.
Menurut Mustofa, pertimbangan pertama, isu terorisme setidaknya telah mampu mendongkrak citra pemerintah sedemikian rupa sehingga pemerintah untuk sementara dipandang sebagai pihak yang benar-benar tegas dan sukses melindungi masyarakat dari bahaya teror.
Kedua, isu terorisme, bagaimanapun mampu memberikan banyak manfaat bagi sebagian pejabat teras kepolisian karena dengan "keberhasilan" mereka di bidang terorisme, maka promosi jabatan yang lebih tinggi menunggu di depan mata.
"isu terorisme sangat rawan disalahgunakan untuk tujuan seperti itu, dengan mengorbankan masyarakat yang tidak tahu apa-apa," kata Mustofa.
Diungkapkan juga, bahwa dalam pemberantasan terorisme, Indonesia meniru gaya-gaya Amerika maupun Australia yang dianggap hebat.
"Sekarang ini hasil sudah bisa dilihat. Dengan isu terorisme, Pemerintah ingin dibilang hebat oleh masyarakat. Pemerintah bahkan kini 'sudah berhasil' mendeteksi dengan tepat para teroris sebelum beraksi," jelas Mustofa.
Mustofa melihat, bahwa pemerintah sudah terlihat selevel dengan Australia dan Amerika yang hobi memberikan travel warning kepada warganya agar tidak mengunjungi negara tertentu karena "diduga" akan ada bom.
Menurutnya, prediksi itu banyak benarnya. Tetapi Indonesia baru bisa mendeteksi secara lokal.
"Sayangnya, ini memberi kesan akal-akalan semata. Sekali lagi memberi kesan akal-akalan. Sejak Noordin dan Azahari dibunuh, peristiwa bom di tanah air penuh dengan kejanggalan dan tidak mengindikasikan itu bom murni pelaku teroris seperti yang selama ini ada di benak kita," kata pria berkaca mata ini.
Lanjutnya, fakta bom, sepertinya sengaja dibuat, untuk menciptakan pelaku bom berikutnya.
"Jangan heran apabila peristiwa bom tak pernah selesai. Bibit-bibitnya, ditumbuhkan dari rekayasa sadis, dan mulai banyak yang mencabut pengakuan dari pelaku yang direkayasa itu," pungkasnya.
|