|
Foto: sindikasi.net
INTELIJEN.co.id - Densus 88 yang melakukan penggerebekan panti asuhan di Semarang dengan alibi mencari pelaku terorisme disebut sebagai gaya lama untuk mengobok-obok umat Islam.
"Ini gaya lama, isu terorisme sudah mengobok-obok pesantren, lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi, dan basis-basis daerah yang kental dengan Islamnya seperti Solo, Cirebon (Jabar), dan Aceh," kata Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya, sebagaimana diwartakan situs berita www.itoday.co.id, Senin, Januari 2012.
Mustofa menduga, munculnya terorisme di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pihak tertentu yang sengaja membentuk satu tim pengolah isu, ide, cerita, dan skenario untuk itu.
"Hasil kajian mereka, kemudian diimplementasikan dengan cara yang sangat rahasia, meniru gaya-gaya intelijen. Namun karena intelijen kita payah, informasi dari tim kajian jahat itu kemudian dipakai untuk memberantas teror di tanah air," ungkapnya.
Mustofa juga menyoroti, ada upaya memberikan kesan negatif terhadap panti asuhan dengan tindakan yang dilakukan Densus 88.
"Tindakan Densus terhadap panti asuhan di Semarang hanya untuk bikin kesan dan pesan kepada masyarakat bahwa yatim piatu pun rawan disusupi ajaran radikal," papar Mustofa.
Selain itu, kata Mustofa, isu terorisme, telah disalahgunakan untuk merendahkan pemeluk agama terbesar di Indonesia, dan tidak ada upaya pemerintah untuk memperbaikinya.
"Dengan anggaran uang rakyat, pemerintah malah membiayainya. Dan ini artinya, pemerintah berdoa untuk negaranya sendiri agar didekatkan pada kehancuran secara perlahan," kritiknya.
Pada Sabtu, 31 Desember 2011, isu penangkapan teroris oleh Densus 88 Antiteror Polri di Pasar Mangkang, Semarang, mencuat di media setempat.
Mencuatnya isu itu, didasarkan kedatangan beberapa anggota Densus 88 ke Panti Asuhan Darul Hadlonah yang berada Wonosari, Mangkang, Ngaliyan, Semarang Jawa Tengah.
Pengasuh panti asuhan, Mustafizd, membenarkan jika ada petugas polisi yang mendatangi panti asuhannya. Namun kedatangan mereka bukan terkait terorisme, melainkan untuk mengetahui kejelasan dua anak asuhnya yang diduga merupakan anggota jaringan NII.
"Iya memang Kamis, 22 Desember 2011, lalu ada anggota yang datang tiga orang. Satu pakaian seragam dan dua pakaian preman," kata Mustafizd di kantornya sebagaimana dilaporkan suaramerdeka.com, Sabtu, 31 Desember 2011.
|