|

INTELIJEN.co.id - Iran berhasil melakukan uji coba peluru kendali (rudal) yang dibuat oleh negaranya sendiri. Uji coba dilakukan dalam latihan perang laut Velayat-90.
Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Habibullah Sayari mengatakan pada Minggu, 1 Januari 2012, seperti dilaporkan kantor berita IRNA, bahwa rudal dari darat ke udara, dan rudal jarak pendek yang dijuluki "Mehrab" telah berhasil ditembakkan oleh pasukan Iran selama latihan perang laut Velayat-90 di bagian timur Selat Hormuz.
Berbicara kepada IRNA, Sayari mengatakan rudal itu ditembakkan dan berhasil mencapai misi yang telah ditetapkan.
Setelah memunculkan kontroversi dan mendapat respon tegas dari AS terkait latihan perang di Selat Hormuz oleh Angkatan Laut Iran tersebut, Sayari kembali menegaskan pesan dari Velayat-90.
Menurutnya pesan dari Velayat-90 adalah perdamaian dan persahabatan bagi semua negara di kawasan itu. Ditambahkan bahwa pasukan Iran melakukan yang terbaik untuk menjaga keamanan seluruh wilayah.
Manuver mengirimkan pesan yang jelas kepada orang asing bahwa mereka tidak memiliki ruang di kawasan itu, katanya.
Pasukan Iran juga telah berhasil menguji penembakan rudal jenis lain dari darat ke darat selama latihan militer, kata Sayari.
Dia menggarisbawahi, kesiapan tempur dan kemampuan teknis dari pasukan Iran adalah sumber kebanggaan bagi bangsa Iran.
Latihan perang laut Velayat-90 digelar sejak Sabtu, 24 Desember 2011, di perairan Teluk Persia dan Laut Oman selama sepuluh hari.
Meski pada awalnya telah ditegaskan bahwa Velayat-90 membawa pesan perdamaian, tapi, pada Rabu, 28 Desember 2011, di tengah berbagai atraksi latihan, Sayari mengemukakan bahwa pasukan angkatan laut negaranya dapat dengan mudah memblokir Selat Hormuz yang strategis jika diperlukan, seperti dilaporkan Press TV.
Sebelumnya, pada Selasa, 27 Desember 2011, Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad-Reza Rahimi, mengatakan bahwa Iran akan menutup selat jika sanksi ekspor minyak disetujui oleh Barat.
Amerika Serikat, kemudian memperingatkan Iran bahwa negaranya tidak akan mentolerir setiap gangguan lalu lintas laut melalui Selat Hormuz.
Juru bicara Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain, Rebecca Rebarich, seperti dikutip beberapa media, memperingatkan bahwa setiap gangguan di selat tidak akan ditoleransi.
Menurutya Angkatan Laut AS selalu siap untuk melawan tindakan jahat guna menjamin kebebasan pelayaran internasional.
Merespon ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan peringatan Amerika Serikat, Cina ikut meresponnya dengan mengharapkan bahwa stabilitas dapat dipertahankan di Selat Hormuz.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei menyampaikan pernyataan tersebut pada konferensi pers, Kamis, 29 Desember 2011, di Beijing, seperti dilaporkan Xinhua.
|