|
Foto: Itar-Tass
INTELIJEN.co.id - Korea Utara mengumumkan pada Jumat, 30 Desember 2011, bahwa kebijakan setelah kematian pemimpin negara Kim Jong Il tidak akan mengalami perubahan apapun.
"Politisi-politisi di seluruh dunia, seharusnya tidak berharap begitu," Komisi Pertahanan Negara mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di Pyongyang, seperti dilansir Itar-Tass.
Pernyataan itu juga menyindir Korea Selatan.
"Kami sungguh-sungguh dan penuh percaya diri menyatakan, bahwa politisi-politisi bodoh di seluruh dunia, termasuk pasukan boneka di Korea Selatan seharusnya tidak mengharapkan perubahan apapun dari kami."
Pernyataan itu juga menekankan bahwa Pyongyang tidak akan memiliki hubungan dengan arus berwenang di Seoul.
Upacara akhir meninggalnya pemimpin Korea Utara Kim Jong-il berlangsung Kamis 29 Desember 2011 dengan salju yang menutupi jalan-jalan ibukota negara komunis itu.
Upacara selama dua hari sejak Rabu, diakhiri dengan sebuah apel massa di Kim Il-sung Pyongyang Square. Nama tempat ini diambil dari nama ayah Kim Jong-il. Prosesi juga diikuti dengan mengheningkan cipta selama tiga menit, di mana mobil, kapal dan kereta api berhenti dan membunyikan suara klakson.
Sebelumnya, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang berencana untuk mengadakan pertemuan trilateral diplomat senior mereka di Washington bulan depan untuk konsultasi tentang Korea Utara setelah kematian Kim Jong-il.
"Ketiga negara telah terlibat diskusi guna memastikan tanggal pertemuan antara utusan kepala nuklir Korea Selatan, Lim Sung-nam, rekannya dari Jepang, Shinsuke Sugiyama, dan diplomat tinggi Washington di Asia, Kurt Campbell," kata seorang pejabat di kementerian luar negeri Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya, Rabu, 28 Desember 2011, seperti dilaporkan Yonhap News.
|