|
Brigadir Jenderal Hossein Salami (Foto: panafricannews/flickr)
INTELIEJN.co.id - Penjabat Kepala Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam atau Islamic Revolution’s Guards Corps (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Salami, mengatakan bahwa Amerika tidak dalam posisi untuk membolehkan atau mencegah Republik Islam Iran untuk menutup Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita Iran, IRNA, Kamis, 29 Desember 2011.
Pernyataan itu dibuat Salami pada hari Kamis di Teheran, untuk menanggapi pernyataan terbaru Komandan Armada Kelima AS di Teluk Persia.
"Sejarah permusuhan AS terhadap Iran jelas mencerminkan itu," tambahnya.
Brigadir Jenderal Salami mengatakan bahwa jika kepentingan vital Iran terancam dengan cara apapun, Iran juga akan mengambil jalan untuk mengingatkan dan Republik Islam Iran tidak akan melepaskan strateginya.
Mengacu pada fakta bahwa Iran tidak menerima perintah dari negara manapun untuk menerapkan strategi pertahanan, Salami menyebut kembali bahwa Republik Islam Iran selama 33 tahun terakhir selalu mencapai tujuannya meskipun AS mengganggu kebijakan-kebijakan.
"Republik Islam Iran lebih ditentukan oleh waktu untuk menerapkan strategi pertahanan," tambah Salami.
Mengacu kepada latihan perang angkatan laut bertitel Velayat-90 di Laut Oman dan Samudera Hindia, Salami menunjukkan bahwa Angkatan Laut Iran merupakan kekuatan dan kemajuan dari angkatan bersenjata Iran.
Selama sepuluh hari, sejak Sabtu, 24 Desember 2011, Iran menggelar latihan militer di Teluk Persia. Latihan perang bertajuk "Naval War Game Velayat-90".
Komandan Angkatan laut Iran, Laksamana Habibullah Amir Sayari, pada pembukaan latihan mengatakan bahwa latihan digelar di area yang luas, mulai dari sisi timur Selat Hormuz di Teluk Oman ke Samudra Hindia bagian utara, meliputi area sekitar Oman, Yaman, Pakistan, India, dan Somalia utara, dan akan dilakukan sesuai dengan peraturan internasional.
Menurut Sayari, Velayat-90 bertujuan untuk menunjukkan kemauan dan tekad angkatan bersenjata dan bangsa Iran, pertahanan yang komprehensif, dan mengirim pesan perdamaian ke wilayah.
Tapi, pada Rabu, 28 Desember 2011, di tengah berbagai atraksi latihan, Sayari mengemukakan bahwa pasukan angkatan laut negaranya dapat dengan mudah memblokir Selat Hormuz yang strategis jika diperlukan, seperti dilaporkan Press TV .
Sebelumnya, pada Selasa, 27 Desember 2011, Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad-Reza Rahimi, mengatakan bahwa Iran akan menutup selat jika sanksi ekspor minyak disetujui oleh Barat.
Isu penutupan Selat Hormuz, mengemuka sejak munculnya pernyataan anggota senior parlemen Iran, Hossein Ebrahimi, beberapa hari sebelum digelarnya latihan.
Wakil Kepala Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran itu, pada Selasa, 18 Desember 2011, mengatakan bahwa jika Barat menjatuhkan sanksi minyak di Republik Islam, Iran akan menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan negara lain untuk ekspor minyak melalui perairan strategis tersebut, seperti dilaporkan Mehr.
Parviz Sorouri, seorang anggota komisi, mengatakan sepekan sebelumnya juga mengatakan bahwa Iran berencana berlatih kemampuan untuk menutup Selat Hormuz, salah satu bagian dunia yang paling penting untuk ekspor minyak mentah dan produk minyak dari negara-negara pesisir Teluk Persia. Amerika Serikat, kemudian memperingatkan Iran bahwa negaranya tidak akan mentolerir setiap gangguan lalu lintas laut melalui Selat Hormuz.
Juru bicara Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain, Rebecca Rebarich, seperti dikutip beberapa media, memperingatkan bahwa setiap gangguan di selat tidak akan ditoleransi.
Menurutya Angkatan Laut AS selalu siap untuk melawan tindakan jahat guna menjamin kebebasan pelayaran internasional.
Merespon ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan peringatan Amerika Serikat, Cina ikut meresponnya dengan mengharapkan bahwa stabilitas dapat dipertahankan di Selat Hormuz.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei menyampaikan pernyataan tersebut pada konferensi pers, Kamis, 29 Desember 2011, di Beijing, seperti dilaporkan Xinhua.
|