|
Rusuh massa, ilustrasi (Foto: Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Bentrok antara aparat keamanan dengan mahasiswa terus mengiringi aksi solidaritas bunuh diri mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), Sondang Hutagalung. Tak hanya itu, di sejumlah wilayah muncul aksi provokasi yang berpotensi memantik konflik horizontal. Di antaranya, penemuan bom aktif di Pasar Babi Maesa, Palu Selatan, Sulawesi Tengah. Sebelumnya, patung Maria di Goa Maria Tawangmangu Solo dirusak massa, disusul kemudian ditemukannya bom di markas FPI Yogyakarta.
Kondisi itu, berpotensi memprovokasi rusuh massa, terutama dengan mendapatkan publikasi media massa secara luas, demikian pandangan analis intelijen politik, F. Hadiatmodjo, dalam situs berita www.itoday.co.id.
Tak dapat dipungkiri, rusuh massa, apalagi memakan korban, akan mendapatkan publikasi media massa secara maksimal baik dari luas cakupan ataupun intensitas. Kekuatan media massa akan mendorong isu rusuh massa menjadi "kekuatan" yang bisa di-utilisasi untuk menekan pihak lawan. Pihak lawan bisa juga diartikan oleh kelompok oposisi sebagai penguasa, demikian juga sebaliknya.
Rusuh massa, baik dalam bentuk konflik vertikal ataupun horizontal, tidak selamanya muncul akibat situasi lapangan yang memanas, tetapi bisa jadi karena ada skenario besar yang digerakkan oleh aktor intelektual.
Secara umum, rusuh massa yang tidak terantisipasi dan memakan korban akan mendegradasikan peran aparat keamanan. Ujung-ujungnya, muncul kesan bahwa aparat atau penguasa tidak bisa menjamin keamanan warga negaranya. Tak dapat dipungkiri, dalam rusuh massa model ini, tidak saja kelompok anti penguasa yang bisa memainkan peran, tetapi sebaliknya, penguasa pun dengan mudah bisa menuding kelompok anti penguasa sebagai aktor di balik rusuh. Artinya, dalam hal ini provokasi rusuh massa bisa dari penguasa, anti penguasa, atau bahkan pihak asing.
Menjelang akhir tahun 2011, sejumlah moment rusuh massa yang perlu diwaspadai antara lain konflik vertikal, konflik SARA, dan konflik internal partai politik. Konflik vertikal akan selalu didahului dengan demontrasi menentang penguasa. "Bakar diri Sondang" dan "tragedi Mesuji" memiliki daya dorong paling populer bagi perlawanan terhadap penguasa.
Konflik SARA bak bara dalam sekam. Hanya dengan sedikit provokasi, konflik horisontal ini hampir bisa dipastikan akan berujung pada konflik berdarah. Wilayah Ambon, Poso, dan Papua menjadi wilayah paling rawan. Sementara di wilayah Jawa, penistaan agama berpotensi besar meledakkan konflik.
Adanya skenario konflik SARA tidak dipungkiri pengamat intelijen, AC Manullang. Mantan Direktur BAKIN ini mengambil contoh peristiwa perusakan Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah dan pengeboman markas FPI di Yogyakarta. Kedua peristiwa itu merupakan skenario pihak tertentu yang ingin membuat konflik SARA di dua kota.
|