|
Kepala Badan Intelijen Korea Selatan, National Intelligence Service (NIS), Won Sei-hoon (Foto:Istimewa)
INTELIJEN.co.id - Anggota parlemen Korea Selatan mengkritik pemerintah karena gagal mengetahui informasi kematian pemimpin Korea Utara Kim Jong-il sampai diumumkan dua hari kemudian, dan mendesak kepala intelijen Won Sei-hoon mengundurkan diri.
Kim Jong-Il, meninggal pada Sabtu, 17 Desember 2011. Sementara pemerintah Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak pertama kali mendengar informasi kematian Kim, pada Senin, 19 Desember 2011 ketika disiarkan oleh televisi pemerintah Korea Utara.
Anggota parlemen dari partai berkuasa, Grand National Party (GNP), Kwon Young-se, menuntut Kepala Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan, bertanggungjawab atas ketidaktahuan kematian Kim tersebut.
"Ada beberapa kasus di mana pemerintah ini membuat diplomasi dan perjanjian keamanan terlepas dari keahlian calon. Tidak seperti wilayah lain, satu kesalahan dalam diplomasi dan keamanan dapat mengancam eksistensi negara," kata Kwon, dalam sebuah wawancara dengan CBS, Rabu, 20 Desember 2011, seperti dikutip Taipe Times.
Kwon mencontohkan pengunduran diri Menteri Pertahanan pemerintahan Lee, tahun lalu, di tengah kritik menanggapi serangan artileri mematikan Korea Utara di Pulau Yeonpyeong, Korea Selatan.
Serangan pada pekan akhir November 2010 itu, menewaskan dua anggota marinir Korsel dan belasan lainnya cedera. Infrastruktur sipil rusak, dan sebagian besar penduduk pulau kecil tersebut terpaksa menyingkir ke tempat yang aman.
"Won harus mengundurkan diri karena ketidaktahuan (kematian Kim) dan manajemen yang buruk penggunaan anggaran besar badan intelijen," kata anggota parlemen yang lain dari partai oposisi, Liberty Forward Party, Park Young-sun.
Korea Selatan menanggapi kematian Kim dan penyebutan anaknya Kim Jong-un sebagai penggantinya, dengan meningkatkan kesiagaan keamanan.
Jepang Juga melakukan hal yang sama. Sementara Amerika Serikat menyatakan terus berhubungan erat dengan sekutu dekatnya tersebut dan akan memantau perkembangan.
Mantan menteri luar negeri Korea Selatan, Han Sung-joo, pada Selasa, 20 Desember 2011, mengatakan dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television bahwa stabilitas Korea Utara dan runtuhnya negara totaliter adalah tidak mungkin.
"Kim Jong-un, yang berusia 20-an tahun, adalah sekedar figur, sementara yang bertanggung jawab adalah pamannya Jang Song-thaek dan pemimpin militer Ri Yong-ho,", kata Han.
|