|
F-35 Lightning II Amerika Serikat (Foto: wikipedia.org)
INTELIJEN.co.id - Pemerintah Jepang memilih pesawat tempur F-35 Lightning II buatan Amerika Serikat sebagai generasi berikutnya pesawat tempur Pasukan Bela Diri-Udara atau Air-Self Defense Forces (ASDF), menggantikan pesawat tempur lama, F-4s.
Departemen Pertahanan menyatakan rencananya untuk membeli total 42 pesawat siluman itu. Empat yang pertama akan diserahkan pada tahun anggaran 2016 dengan harga, masing-masing 9,9 milyar yen atau sekitar 116 miliar rupiah.
Pendanaan untuk membeli empat F-35 akan dimasukkan dalam anggaran pertahanan negara ini mulai tahun 2013.
Keputusan resmi untuk membeli F-35 dibuat Selasa pagi, 20 Desember 2011, oleh Dewan Keamanan Jepang yang dipimpin Perdana Menteri Yoshihiko Noda, demikian dilaporkan The Japan Times.
Karena pesawat tempur masih sedang dikembangkan oleh sebuah konsorsium internasional yang dipimpin oleh Lockheed Martin Corp, maka harga hanya disepakati selama empat F-35 pertama dikirimkan. Hal ini setidaknya mendorong kekhawatiran bahwa biaya akhir mungkin akan meningkat secara substansial dan jadwal pengiriman bisa tertunda.
"F-35, setelah dievaluasi memiliki nilai tertinggi dalam hal kinerja dibandingkan dengan dua kandidat lainnya, F/A-18 Super Hornet Boeing dan Eurofigher Typhoon dikembangkan oleh empat negara Eropa," kata Menteri Pertahanan Yasuo Ichikawa.
Dari tiga jet tempur, setelah dipertimbangankan, F-35 memiliki teknologi paling canggih dan kemampuan siluman yang terbaik, kata kementerian tersebut.
Interoperabilitas dari F-35 dengan radar ASDF dan sistem senjata yang ada, yang sebagian besar diperoleh dari Amerika Serikat, diyakini telah menjadi faktor kunci lain, selain pertimbangan pentingnya menjaga hubungan bilateral yang baik dengan Washington.
Kementerian akan meminta bahwa setelah empat F-35 pertama dikirim pada tahun 2016, sisa pesawat tempur baru lainnya untuk dirakit di Jepang.
"Negosiasi lebih lanjut akan diadakan untuk menetapkan harga pesawat untuk dirakit di Jepang setelah 2016," kata kementerian tersebut.
Kementerian Pertahanan Jepang, menurut The Japan Times, telah mati-matian mencari pengganti armada F-4s ASDF yang sudah kadaluwarsa untuk bersaing dengan Cina dan negara-negara Asia lainnya yang telah memodernisasi angkatan udara mereka dalam beberapa tahun terakhir. F-4s digunakan secara luas selama Perang Vietnam oleh Angkatan Udara AS.
Narushige Michishita, profesor di Graduate National Institute for Policy Studies dan ahli kebijakan pertahanan Jepang, mengatakan, bahwa pilihan pemerintah dapat dipahami, mengingat kinerja tinggi F-35 dan hubungan dekat Jepang dengan AS, terutama pada saat Tokyo semakin membutuhkan Washington untuk menahan pertumbuhan kekuatan Cina.
"Belanja pertahanan Cina telah meningkat drastis baru-baru ini. Jepang membutuhkan AS sebagai mitra untuk menangani Cina," kata Michishita.
Michishita, menyebutkan bahwa agresifitas Cina dalam mendekati wilayah udara Jepang, semakin meningkat.
"ASDF mengejar untuk mencegat pesawat Cina yang mendekati wilayah udara Jepang 83 kali antara April dan September, meningkat 3 kali lipat dari periode yang sama tahun lalu," katanya, mengutip data Kementerian Pertahanan.
Michishita juga menambahkan soal perkembangan kekuatan udara Cina.
"Pada Januari, Cina mengklaim telah berhasil melakukan uji-terbang pesawat tempur siluman buatannya sendiri, J-20," katanya.
Oleh karena itu, menurut Michishita, pembelian armada baru jet tempur yang tetap interoperable dengan AS menjadi penting bagi Jepang.
"Kami masih tidak yakin bagaimana Cina akan bertindak sebagai anggota masyarakat internasional," katanya.
Tapi, Michishita masih mengkhawatirkan soal terpenuhinya secara keseluruhan pembelian F-35 tersebut, sehubungan pesawat tersebut yang masih dalam pengembangan, yang memungkinkan terjadinya peningkatan harga secara signifikan dan tertundanya pengiriman, setelah empat pesawat tempur yang pertama dikirim pada 2016.
Michishita menyarankan agar pemerintah Jepang mengubah kebijakan pelarangan ekspor senjata dan partisipasi dalam pengembangan senjata dengan negara lain.
|