|
Menteri Luar Negeri Kuwait, Sheikh Sabah Khaled Al-Hamad Al-Sabah (Foto: presstv.ir)
INTELIJEN.co.id - Dua warga Kuwait yang ditahan oleh pemerintah Iran bulan lalu atas tuduhan melakukan kegiatan spionase, telah dibebaskan pada Sabtu, 17 Desember 2011.
Kabar itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kuwait, Sheikh Sabah Al-Khaled Hamad Al-Sabah, di Kuawait City. Sheikh Khaled mengatakan Amir Kuwait mengirimkan pesawat untuk membawa pulang dua warga negaranya tersebut dari Ahvaz, ibukota Provinsi Khuzestan, Iran.
Adel Al-Yahya dan Raed Al-Majid ditangkap di kota Abadan, barat daya Iran, pada 12 November 2011 oleh petugas keamanan Iran yang menuduh mereka masuk secara ilegal dan melakukan kegiatan spionase.
"Dari dua orang yang diduga mata-mata tersebut, disita beberapa peralatan spionase oleh penjaga keamanan Iran di Kota Abadan dekat perbatasan Iran-Irak," kata Gubernur Abadan, Bahram Ilkhaszadeh, kepada TV Al Alam setelah penangkapan.
Kuwait membantah tuduhan itu dan memanggil duta besar Iran, mendesak segera melepaskan warganya.
Kuwait mengatakan pada Mei tahun lalu bahwa pihaknya telah berhasil mengungkap jaringan spionase yang bekerja untuk pasukan elit Pengawal Revolusi Islam Iran, yang dibantah oleh Teheran.
Hubungan antara kedua negara Teluk itu memburuk setelah pengadilan pidana Kuwait menghukum mati dua warga Iran dan seorang warga Kuwait dihukum karena kegiatan spionase pada bulan Maret.
Penjatuhan hukuman itu menyebabkan tindakan saling balas pengusiran duta besar dan diplomat, yang baru kembali ke pos mereka dua bulan kemudian setelah upaya bilateral dilakukan untuk meredakan ketegangan.
Negara-negara Arab Teluk, yang diperintah monarki Sunni, menuduh Iran, negara Syiah, ikut campur dalam urusan internal mereka. Tuduhan itu mengemuka setelah Iran menentang langkah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang mengirimkan pasukan ke Bahrain pada bulan Maret untuk membantu memadamkan protes.
Seiring dengan munculnya gelombang protes di negara-negara Arab (Arab spring) sejak akhir 2010 dan awal 2011, yang dipicu oleh "revolusi melati" di Tunisia, Bahrain juga dilanda protes-protes.
|