|
Foto: Wikimedia.org
INTELIJEN.co.id - Presiden AS Barack Obama pada Rabu, 14 Desember 2011 menandai berakhirnya Perang Irak dengan kunjungan ke pasukannya yang banyak terlibat dalam perang Irak, di Fort Bragg, carolina utara. Obama mengatakan bahwa pekerjaan akhir untuk militer AS meninggalkan Irak telah dilakukan, dan pasukan terakhir akan keluar dari negara itu dalam beberapa hari mendatang. Kunjungan ini, menandai akhir dari delapan setengah tahun perang.
Perang Irak, dimulai pada 18 Maret 2003 dengan invansi atau okupasi oleh pasukan koalisi pimpinan AS ke Irak.Alasan perang sejauh ini masih menjadi kontroversi, antara tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal, pelanggaran resolusi PBB, dan keterlibatan rezim Saddam Hussein dengan jaringan teroris Al Qaeda.
Terdapat sekitar 315.000 pasukan sewaktu invasi dilakukan, dan tinggal sekitar separuhnya ketika Saddam Hussein, penguasa Irak saat itu, berhasil digulingkan. Segera setelah itu, pasukan koalisi membentuk pemerintahan transisi dan pasukan baru Irak. Namun perang tetap berlanjut dengan melibatkan kelompok-kelompok pemberontak sampai dengan tujuh tahun kemudian.
Dalam pidatonya kepada anggota Airborne ke-82 dan Pasukan Operasi Khusus Angkatan Darat, Obama mengatakan, meskipun Amerika Serikat meninggalkan Irak dengan "tidak sempurna" tetapi negara itu sudah lebih berdaulat, stabil, dan mandiri.
"Kami sedang membangun sebuah kemitraan baru antara Amerika Serikat dan Irak. Dan kami telah mengakhiri perang tidak dengan pertempuran akhir. Tapi dengan pawai terakhir menuju rumah," kata Obama, menegaskan bahwa Amerika Serikat telah melakukan "yang terbaik" di Irak.
Berkaca pada korban perang yang besar, Obama mencatat hampir 4.500 anggota militer AS tewas di Irak, termasuk 202 tentara dari Fort Bragg. Dia mengakui perang adalah sumber kontroversi besar di dalam negeri, dengan patriot-patriot yang berada di kedua sisi perdebatan. Obama menamsilkan, bahwa lebih sulit untuk mengakhiri perang daripada untuk memulai yang sama."
Sebagai kandidat presiden, Obama berkampanye dengan janji mengakhiri perang Irak, dan menurut kesepakatan dengan pemerintah Irak, pasukan AS menarik diri dari negara itu pada akhir tahun ini.
Gedung Putih awalnya ingin mempertahankan beberapa tentara di Irak sebagai pelatih militer, tetapi gagal mencapai kesepakatan dengan Irak pada syarat-syarat.
Menerima tamunya, Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki di Gedung Putih pada Senin, 12 Desember 2011, Obama mengatakan saat konferensi pers dengan pemimpin Irak itu, bahwa perang berakhir bulan ini, dan sudah waktunya untuk memulai babak baru dalam sejarah antara Amerika Serikat dan Irak. "Sebuah hubungan yang normal antara negara-negara berdaulat. Sebuah kemitraan yang setara berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati," kata Obama.
Salah satu wujud konkrit kemitraan itu, adalah dalam kerjasama militer yang efektif antara kedua negara.
Irak telah menandatangani kesepakatan untuk pembelian tahap pertama, 18 pesawat tempur F-16 awal tahun ini, dari total 36 dalam kontrak miliaran dolar. Sementara Amerika Serikat berkomitmen akan melatih pilot-pilot untuk pesawat-pesawat itu dalam rangka mempesiapkan angkatan udara Irak yang efektif.
Menyikapi ketidakpastian masa depan anggota pasukan (veteran perang) Irak, di tengah kondisi perekonomian Amerika Serikat yang kurang baik saat ini, serta tingkat pengangguran veteran yang tinggi setelah tragedi 9/11, obama tetap berjanji untuk menjamin anggota pasukan dan keluarganya.
Dalam pidatonya, Obama mengatakan bahwa pemerintah akan menepati janjinya merawat anggota militer dan keluarga melalui "pos 9/11 GI Bill" serta langkah-langkah baru untuk memacu perekrutan veteran.
|