|
Foto: orwelltoday.com
INTELIJEN.co.id - Cina membantah pernyataan-pernyataan yang menyebutkan bahwa negaranya telah membeli tanah di Afrika. Cina yang dalam dekade terakhir ini intens mengembangkan hubungan dengan Afrika, juga menyerukan upaya konkrit untuk membantu berkembangnya sektor pertanian di benua itu secara berkelanjutan.
"Cina selalu berusaha swasembada pangan melalui hasil domestik sendiri," kata jurubicara Kementerian Luar Negeri Cina Hong Lei pada konferensi pers reguler, Kamis 8 Desember 2011, sebagaimana dilaporkan Xinhua.
Menurut Hong, yang dilakukan Cina adalah memberikan berbagai bantuan teknis untuk dapat mengembangkan pertanian di Afrika dan meningkatkan kemampuan benua itu menggunakan sumber daya alam dan isu-isu seperti perubahan iklim dan keamanan pangan, bukan mengambil tanah.
"Upaya-upaya itu disambut oleh negara-negara Afrika," tambahnya.
Menanggapi pertanyaan tentang neo-kolonialisme, Hong mengatakan bahwa memang ada neo-kolonialisme di Afrika, tetapi sama sekali bukan dari Cina. Jurubicara itu tidak mengidentifikasi negara mana yang merupakan neo-kolonialis.
"Negara-negara Afrika telah secara luas mencapai konsensus tentang masalah ini," kata Hong, mengutip Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, yang mengatakan bahwa penggambaran keterlibatan Cina dengan Afrika sebagai neo-kolinilaisme adalah tidak benar.
"Sebagai mitra strategis yang penting, Cina telah memberikan kontribusi besar untuk perkembangan ekonomi dan perbaikan kehidupan masyarakat di Afrika Selatan," kata Hong.
Juru bicara itu mengatakan bahwa beberapa perusahaan Cina melakukan model kerjasama bisnis internasional melalui skala kecil yang diterima oleh mitra mereka di Afrika, dan menjual produk mereka untuk memenuhi permintaan lokal.
Tahun ini, menurut Hong, Cina menyumbangkan 443.200.000 yuan atau sekitar 70 juta dolar AS dalam bentuk bantuan pangan darurat dan dana untuk negara-negara yang dilanda kelaparan di kawasan semenanjung timur-laut Afrika atau "horn of Africa". Sumbangan ini, kata Hong. merupakan sumbangan terbesar Cina sejak 1949.
"Afrika adalah korban neo-kolonialisme pertanian," kata Hong, yang menambahkan, bahwa karena itu merupakan kewajiban bersama dari komunitas internasional untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan sektor pertanian Afrika.
Selama keterangan singkatnya, Hong juga mendesak "negara-negara yang benar-benar memiliki lahan pertanian luas" untuk "mendengarkan suara Afrika dan mengambil langkah-langkah konkrit" membuat kontribusi jangka panjang ketahanan pangan di benua itu.
|