Selasa, 22/05/2012 12:37 WIB

Intelijen

Home Warta Konferensi Bonn dan 10 Tahun Anti-terorisme di Afghanistan
Konferensi Bonn dan 10 Tahun Anti-terorisme di Afghanistan
Kamis, 08 Desember 2011 12:51

Foto: XinhuaFoto: Xinhua

INTELIJEN.co.id - Sepuluh tahun yang lalu, pertemuan pertama tentang Afghanistan diselenggarakan di Bonn. Pertemuan ditutup dengan Kesepakatan Bonn, yang menghasilkan cetak biru untuk membangun kembali Afghanistan.

Harapan yang tinggi digantungkan untuk mengakhiri kekacauan yang disebabkan oleh perang. Namun, sepuluh tahun kemudian, mimpi-mimpi itu masih belum menjadi kenyataan.

Setelah serangan terhadap menara kembar Word Trade Center di New York oleh kelompok teroris, pada 11 September 2001, Amerika Serikat meluncurkan perang di Afghanistan dan menggulingkan rezim Taliban. Rezim Taliban yang saat itu memperoleh kekuasaan di Afghanistan, dituduh melindungi organisasi teroris, Al Qaeda.

Sebuah konferensi di Bonn, Jerman, kemudian diserukan untuk membahas bagaimana membangun kembali Afghanistan dan mendamaikan konflik dalam negeri. Pada tahun yang sama, Amerika Serikat mengirim pasukan keamanan untuk mengemban tanggung jawab menciptakan lingkungan yang damai dan stabil.

Pada 2004, Amerika Serikat memberikan perintah kepada kekuatan NATO untuk fokus pada perang di Irak. Setelah itu, pimpinan pasukan keamanan NATO memperkuat serangan mereka terhadap pasukan Taliban. Namun, kekerasan terus meningkat di Afghanistan.

Pada 2009, Barack Obama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat dan ia mulai menyesuaikan kembali strategi di Afghanistan. Pada akhir tahun, Amerika Serikat mengumumkan mundur dari Afghanistan, dan rencana untuk menyerahkan tanggung jawab keamanan sepenuhuhnya kepada pasukan keamanan Afghanistan pada 2014.

Pada Mei tahun ini, pasukan AS berhasil membunuh Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda. Setelah sepuluh tahun kampanye anti-terorisme, Afghanistan telah mencapai kemajuan di banyak bidang termasuk pendidikan dan kesehatan. Tapi, perang dengan biaya lebih dari 400 miliar dolar AS, belum menghasilkan perdamaian dan stabilitas.

Konferensi Bonn yang diikuti hampir seratus negara dan organisasi internasional dilaksanakan selama sehari penuh pada 5 Desember 2011, telah menghasilkan DeklarasiBonn. Dikatakan dalam deklarasi itu bahwa masyarakat internasional siap untuk bekerjasama Afghanistan selama 10 tahun setelah NATO menarik diri dalam transisi menuju pemerintahan yang baik.

Prioritas kerjasama, disebutkan dalam deklarasi, adalah terkait perlindungan terhadap warga sipil, memperkuat supremasi hukum dan memerangi korupsi dalam segala bentuknya.

Deklarasi Bonn juga mengatakan bahwa al-Qaeda telah dihancurkan dan lembaga-lembaga keamanan nasional Afghanistan semakin mampu memikul tanggung jawab untuk Afghanistan yang aman dan independen.

Ditambahkan, bahwa kekurangan-kekurangan harus disikapi dengan tujuan menciptakan Afghanistan yang damai di mana terorisme internasional tidak lagi menemukan tempat di antara antara negara-negara berdaulat.

Deklarasi menyimpulkan bahwa saat pasukan asing meninggalkan Afghanistan, suatu "dekade transformasi" harus mulai, di mana Afghanistan mengkonsolidasikan kedaulatannya.

Pakistan yang sebenarnya menjadi bagian penting dalam penciptaan masa depan damai di Afghanistan, telah memboikot Konferensi sebagai protes terhadap serangan udara NATO, 26 November 2011, di dua pos perbatasan yang telah menewaskan 24 tentara negara ini dan melukai 13 lainnya.

Para pemimpin dunia telah mendesak Pakistan untuk mengubah keputusan boikot, tetapi Islamabad tetap pada keputusan untuk tidak menghadiri konferensi.

Menteri Luar Negeri Jerman, yang menjadi tuan rumah Konferensi Bonn, mengungkapkan harapan agar Pakistan akan terus memperluas dukungan penting untuk perdamaian dan pembangunan di Afghanistan, terutama untuk mencapai rekonsiliasi politik di negara itu.

Dua hari setelah Konferensi Bonn, bom yang ditanam di pinggir jalan ("bom pinggir jalan") menghantam sebuah kendaraan di provinsi Helmand, 555 kilometer sebelah selatan ibukota Afghanistan, dan menewaskan sekitar 12 orang.

Aksi itu, menurut pejabat berwenang Afghanistan, dilakukan oleh militan Taliban. Beberapa bulan terakhir, kelompok ini banyak melakukan aksi "bom bunuh diri" dan "bom pinggir jalan" untuk melawan pemerintah Afghanistan yang didukung NATO.

Simbol "penolakan" Konferensi Bonn, "pertarungan" kepentingan kelompok di dalam negeri, atau "taktik baru" untuk pertahankan kampanye anti-terorisme?


 
Pemerintah AS Sedang Upayakan Referendum bagi Papua
INTELIJEN.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalagewa harus menyataka
Grup AS dalam Pemerintahan SBY
INTELIJEN.co.id - Wikileaks merilis bocoran terbaru kawat-kawat berita dari pos Kedutaan Besar Amer
Jerusalem Center, Minta Cina dan Rusia Cegah Rencana Serangan Israel ke Iran
INTELIJEN.co.id - Dalam beberapa minggu terakhir ini, berbagai artikel dan analisis di media-media
Konflik Freeport, di Tengah Usaha Renegosiasi Kontrak Tambang
INTELIJEN.co.id - Asap hitam membubung di langit Timika, papua. Penerbangan dari dan menuju Bandara
Poin Pidato Kenegaraan Presiden SBY, Jelang 17 Agustus 2011
INTELIJEN.co.id - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini tadi, Selasa 16 Agustus 2011, menyampa
Banner
Banner