Selasa, 22/05/2012 12:25 WIB

Intelijen

Home Warta PM Pakistan: 11 Desember Batas Akhir AS Kosongkan Pangkalan Udara Shamsi
PM Pakistan: 11 Desember Batas Akhir AS Kosongkan Pangkalan Udara Shamsi
Kamis, 01 Desember 2011 12:45

Foto: APPFoto: APP

INTELIJEN.co.id - Perdana Menteri Pakistan Yusuf Raza Gilani, Rabu, 30 November 2011,  mengatakan, bahwa Komite Kepala Staf Gabungan telah meminta Amerika Serikat untuk mengosongkan Pangkalan Udara Shamsi  pada Desember 11.

"Komite telah memberikan tenggat waktu 11 Desember dalam sebuah surat perintah kepada militer AS", kata Perdana Menteri seperti dilaporkan APP.

Pemimpin sipil dan militer negara itu, sebelumnya, pada Sabtu, 26 November 2011, meminta AS untuk mengosongkan pangkalan udara Shamsi, di provinsi Balochistan, setelah jet tempur dan helikopter NATO membom dua pos perbatasan dan menewaskan 24 tentara Pakistan.

AS telah menggunakan pangkalan udara Shamsi selama hampir 10 tahun untuk operasi militer di Afghanistan dan serangan pesawat mata-mata di wilayah kesukuan Pakistan.

Mengenai keputusan Pakistan untuk memboikot konferensi Bonn, Gilani mengatakan bahwa hal itu adalah sebagai bentuk protes.

"Tanah Afghanistan digunakan untuk menyerang pos pemeriksaan Pakistan di wilayah kesukuan Mohmand, dan karena itu Pakistan tidak dapat menghadiri konferensi ini," kata Gilani.

Dia menambahkan, bahwa, Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, telah meneleponnya dan meminta untuk meninjau kembali keputusan boikot. Tapi, dikatakannya, bahwa tanah Afghanistan digunakan untuk menyerang Pakistan dan karena itu, Pakistan tidak dapat menghadiri konferensi.

Mengutip pernyataan Karzai, Perdana Menteri Gilani juga mengatakan, bahwa kekuatan Afghanistan tidak merencanakan serangan tersebut, namun NATO dan pasukan AS yang melakukannya.

Gilani menegaskan bahwa Pakistan tidak akan menghadiri Konferensi Bonn, sementara tidak ada jaminan bagi keamanan negaranya.

"Kecuali, kita diberi jaminan untuk keamanan kami, kedaulatan, integritas, kehormatan martabat dan harga-diri, kita tidak bisa menghadiri konferensi Bonn", katanya.

Menurut Gilani, Pakistan menginginkan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan yang merupakan tetangganya. Ketidakstabilan di Afghanista pun mengarah ke gangguan dalam lingkungan. Oleh karena itu, menurut Gilani, Pakistan dapat mendukung Afghanistan jika masalah Afghanistan diselesaikan di bawah rekonsiliasi politik dengan tetangganya.

Gilani juga menyatakan bahwa Pakistan ingin hubungan baik dengan AS, tetapi hal itu hanya mungkin dapat dilakukan ketika kedua negara berada pada prinsip saling menghormati dan kesetaraan.

Sebelumnya, pihak-pihak internasional, termasuk Amerika Serikat dan Jerman, menyerukan agar Pakistan meninjau keputusan boikot tersebut. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan Kanselir Angela Markel menyesali keputusan Pakistan dan memintanya melakukan peninjauan.


 
Pemerintah AS Sedang Upayakan Referendum bagi Papua
INTELIJEN.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalagewa harus menyataka
Grup AS dalam Pemerintahan SBY
INTELIJEN.co.id - Wikileaks merilis bocoran terbaru kawat-kawat berita dari pos Kedutaan Besar Amer
Jerusalem Center, Minta Cina dan Rusia Cegah Rencana Serangan Israel ke Iran
INTELIJEN.co.id - Dalam beberapa minggu terakhir ini, berbagai artikel dan analisis di media-media
Konflik Freeport, di Tengah Usaha Renegosiasi Kontrak Tambang
INTELIJEN.co.id - Asap hitam membubung di langit Timika, papua. Penerbangan dari dan menuju Bandara
Poin Pidato Kenegaraan Presiden SBY, Jelang 17 Agustus 2011
INTELIJEN.co.id - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini tadi, Selasa 16 Agustus 2011, menyampa
Banner
Banner