|
Salah satu aksi Satuan Pasukan Operasi Khusus dalam latihan kontraterorisme, Northstar VIII (Foto: the Straits Times)
INTELIJEN.co.id - Sekitar 1.200 personil dari 18 lembaga pemerintah Singapura, pada Jumat, 25 November 2011, mengambil bagian dalam latihan darurat terbesar nasional.
Latihan, dengan sandi Northstar VIII, menempatkan para personil lembaga yang tergabung, melalui beberapa serangan simulasi di Singapura, termasuk ledakan bom dan tumpahan bahan kimia, tulis the Straits Times.
Di laut, satuan pasukan khusus dan petugas polisi penjaga pantai menyerbu sebuah tanker yang 'dibajak' dan diberhentikan 'teroris' dari serudukan kapal bermuatan bahan peledak ke Pulau Jurong.
Mereka bertindak atas informasi yang diberikan oleh kelompok pengawas keamanan maritim gabungan pertama Singapura, sistem keamanan maritim nasional negara itu, National Maritime Security System (NMSS).
Northstar VIII, dilakukan untuk menguji sistem keamanan maritim yang baru dari negeri singa tersebut. Pengujian, terkait dengan kesiapan, efektifitas, dan koordinasi antar lembaga dalam menanggapi keadaan darurat sipil.
NMSS meliputi badan-badan maritim Singapura dari kepolisian, otoritas imigrasi dan pos pemeriksaan, Bea Cukai, angkatan laut, dan otoritas maritim dan pelabuhan.
Sementara National Maritim Operation Group (NMOG) atau Grup Operasi Maritim Nasional di NMSS merencanakan dan mengintegrasikan seluruh tanggapan dari pemerintah. Kekuatan lain adalah "Pusat Kesadaran Maritim Nasional 7 Hari 24 Jam" atau "24/7 National Maritime Sense-making Centre (NMSC)" yang akan terus menerus dan proaktif memindai ancaman maritim di Singapura untuk memberikan peringatan dini.
NMSC, akan mengikuti perjalanan secara real-time tentang informasi kapal-kapal yang berlayar di perairan Singapura bahkan sampai Selat Malaka dan laut Cina Selatan setiap hari, untuk menyusun profil masing-masing kapal sebelum mencapai Singapura.
Kapal-kapal yang muncul mencurigakan karena pola perilaku dan perjalanan mereka, akan secara otomatis berbendera merah dalam sistem yang tersedia.
"Setiap serangan yang terjadi di wilayah perairan kita, akan memiliki dampak yang signifikan terhadap Singapura," kata Kepala Staf Angkatan Laut Republik Singapura, Laksamana Tan Wee Beng, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis, 24 November 2011.
Menurut Tan, laut juga dapat digunakan oleh teroris sebagai sumbu untuk menyerang sasaran di darat.
"Kita tahu bahwa ancaman teroris akan terus berkembang, Oleh karena itu penting bagi kita untuk tetap berada di depan kurva," katanya
Tan, juga menjelaskan bahwa lebih dari 90 Persen perdagangan dunia melalui laut, dan 120.000 kapal melewati Selat Singapura setap tahunnya, yang menjadikannya salah satu selat tersibuk di dunia dan juga sasaran serangan yang rentan.
"Sebuah peringatan keras, bahwa ancaman teror tidak menghormati batas-batas, seperti dalam serangan teror Mumbai 2008, di mana 10 teroris memasuki kota melalui laut untuk memulai serangan mematikan yang diklaim sampai membawa korban 164 jiwa," terangnya.
|